Banjarnegara (Humas) – Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Banjarnegara kembali menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) triwulanan yang diikuti oleh hampir 80 orang penyuluh agama dari berbagai keyakinan. Acara penting ini diadakan pada Rabu (19/11/2025), bertempat di Balai Desa Giritirta, Kecamatan Pejawaran.
Rakor kali ini dihadiri oleh para Penyuluh Agama Islam, Kristen, Katolik, dan Budha, mencerminkan semangat toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang kuat di Banjarnegara. Acara ini dihadiri juga oleh Kepala Desa Giritirta, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Pejawaran, dan Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banjarnegara. Salah satu peserta yang turut hadir adalah M. Syaiful Abidin, Penyuluh Agama Islam dari KUA Pagentan, yang dikenal aktif dalam kegiatan organisasi penyuluh.
Dalam sesi wawancara, M. Syaiful Abidin menekankan betapa pentingnya keikutsertaan dalam kegiatan rutin ini. Menurutnya, Rakor IPARI bukan sekadar pertemuan formal, melainkan ruang vital untuk meningkatkan kompetensi dan kekompakan sesama penyuluh.
“Rakor IPARI yang dilaksanakan rutin setiap tiga bulan sekali ini adalah momentum emas bagi kami para penyuluh agama. Di sini, kami tidak hanya berbagi informasi terbaru mengenai kebijakan Kementerian Agama, tetapi juga sharing pengalaman dan tantangan di lapangan. Intinya, kegiatan ini sangat penting untuk menjaga kualitas penyuluh dan memastikan pesan damai serta kerukunan sampai ke masyarakat secara efektif,” ujar M. Syaiful Abidin.
Senada dengan antusiasme para penyuluh, Kepala Seksi Bimas Islam Kantor Kemenag Kabupaten Banjarnegara, Slamet Wahyudi, memberikan apresiasi tinggi terhadap peran IPARI. Kehadiran beliau sekaligus menandai dukungan penuh Kemenag terhadap organisasi profesional ini.
“Kami dari Kemenag Banjarnegara sangat mengapresiasi kinerja dan eksistensi IPARI. Dalam pandangan kami, IPARI telah membuktikan diri mampu menjadi wadah organisasi yang profesional. Organisasi ini tidak hanya menyatukan para penyuluh dari berbagai agama, tetapi juga secara konsisten berupaya meningkatkan kompetensi anggotanya. Ini adalah contoh baik sinergi antara pemerintah dan organisasi profesi dalam upaya pembinaan umat dan pembangunan kerukunan,” tegas Slamet Wahyudi.
Agenda utama Rakor triwulanan ini meliputi evaluasi program kerja tiga bulan sebelumnya, penyusunan rencana kerja ke depan, serta pembahasan isu-isu strategis terkait pembinaan kerukunan dan moderasi beragama di tingkat akar rumput. Diharapkan, melalui kegiatan ini, para penyuluh agama dapat terus menjadi garda terdepan dalam menjaga keharmonisan dan memberikan bimbingan yang mencerahkan bagi masyarakat Banjarnegara.
(msa/ azd)







