Banjarnegara (Humas) – Sebagai bentuk kepedulian dan pendampingan spiritual kepada masyarakat terdampak bencana, Penyuluh Agama Islam dari KUA Pandanarum dan Kalibening menggelar kegiatan doa bersama di salah satu posko pengungsian korban tanah longsor Situkung pada Selasa malam (18/11/2025), mulai pukul 19.30 hingga selesai. Kegiatan ini mendapatkan respons baik dari para pengungsi yang masih berada di lokasi penampungan sementara.
Doa bersama dipimpin oleh Muhamad Ali Syafi’i dan Rohim, dua Penyuluh Agama Islam yang selama masa tanggap darurat aktif memberikan layanan bimbingan dan kepenyuluhan keagamaan kepada warga terdampak. Keduanya memimpin rangkaian doa dengan penuh kekhidmatan, memohon keselamatan, perlindungan, serta kekuatan batin bagi seluruh korban dan relawan yang terlibat dalam penanganan bencana.
Suasana haru sangat terasa saat para pengungsi mengikuti doa dengan penuh khusyuk. Banyak di antara mereka yang masih trauma akibat kerasnya bencana longsor yang melanda wilayah Situkung, sehingga kehadiran para penyuluh memberikan ketenangan dan dukungan moral yang sangat diperlukan. Selain doa bersama, para penyuluh juga menyampaikan pesan-pesan penguatan agar masyarakat tetap sabar, tabah, dan saling mendukung satu sama lain dalam menghadapi musibah ini.

Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata kehadiran Kementerian Agama di tengah masyarakat, terutama dalam situasi krisis seperti sekarang. Para penyuluh berkomitmen untuk terus hadir mendampingi para pengungsi tidak hanya dalam bentuk layanan keagamaan, tetapi juga memberikan ruang bagi warga untuk berbagi keluh kesah dan harapan mereka setelah kehilangan rumah dan harta benda.
Menurut keterangan tim penyuluh, kegiatan doa bersama ini akan dilaksanakan secara rutin selama masa tanggap darurat masih berlangsung. Hal ini dilakukan agar para pengungsi senantiasa mendapatkan ketenangan batin, sekaligus memperkuat ikatan sosial antarwarga yang kini harus hidup bersama di posko pengungsian.
Selain memberikan layanan spiritual, para penyuluh juga memantau kebutuhan keagamaan para pengungsi, mulai dari ketersediaan alat salat, Al-Qur’an, buku yasin, hingga kebutuhan ibadah lainnya. Upaya ini dilakukan agar para korban tetap dapat menjalankan ibadah dengan baik meski dalam keadaan darurat.
Kegiatan doa bersama ini diharapkan mampu menjadi penopang mental dan spiritual bagi warga Situkung yang tengah mengalami masa-masa berat, sehingga mereka dapat bangkit dan kembali menata kehidupan setelah musibah berlalu.
(ev/ azd)







