Penyuluh Agama KUA Purwanegara Gaungkan Peran Ibu sebagai Role Model dalam Kelas Ibu Balita Desa Mertasari

Banjarnegara (Humas) – Dalam rangka mewujudkan generasi yang berkualitas dan berakhlak mulia, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Purwanegara, Retno Purnawati, kembali melaksanakan aksi nyata program unggulan KOPI SECETING (Komunitas Penyuluhan Penyuluh Agama Islam Serius Cegah Stunting) melalui kegiatan penyuluhan spiritual dan edukatif kepada para ibu balita di Desa Mertasari.

Bertempat di Gedung Pusat Kesehatan Desa (PKD) Mertasari, Kecamatan Purwanegara, kegiatan ini berlangsung pada hari Kamis (24/7), dan dihadiri oleh 20 orang ibu bersama anak-anak balita mereka. Kegiatan tersebut dikemas dalam kelas ibu balita, sebuah program edukatif yang ditujukan bagi para ibu yang memiliki anak usia balita (0–5 tahun), difasilitasi oleh Puskesmas dan PKD (Pusat Kesehatan Desa). Tujuannya adalah memberikan pengetahuan, keterampilan, dan pendampingan kepada para ibu dalam merawat, mendidik, dan memantau tumbuh kembang anak secara optimal.

Dengan tema “Ibu adalah Madrasah Pertama bagi Anak-anaknya”, Retno Purnawati menyampaikan materi yang menggugah dan penuh makna. Ia menekankan bahwa seorang ibu memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam membentuk karakter dan masa depan anak. Tidak hanya setelah anak lahir, pendidikan anak justru sudah harus dimulai sejak dalam kandungan.

“Seorang ibu adalah madrasah pertama, bahkan sebelum anak dilahirkan. Pendidikan spiritual, akidah, dan pembentukan karakter mulai ditanamkan dari dalam rahim,” tegas Retno dalam penyampaiannya.

Ia juga menjelaskan pentingnya mengenalkan nilai-nilai keimanan sejak dini kepada anak, mengajarkan aqidah tauhid, mengenalkan Allah dan Rasul-Nya, serta menanamkan kebiasaan baik seperti disiplin, sopan santun, dan kejujuran melalui keteladanan ibu dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Retno juga menyoroti pentingnya peran ibu sebagai role model atau teladan utama bagi anak-anaknya. Anak-anak pada dasarnya adalah peniru ulung. Mereka akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya, khususnya ibunya yang setiap hari membersamai mereka. Maka dari itu, ibu harus senantiasa menjaga ucapan, perilaku, serta akhlak agar bisa menjadi contoh yang baik bagi anak.

“Masa depan anak-anak kita harus jauh lebih baik dari kehidupan kita sekarang. Dan itu hanya bisa terwujud jika ibu sebagai pendidik utama menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan penuh cinta,” tambah Retno.

Suasana penyuluhan berlangsung hangat dan interaktif. Tidak sedikit dari mereka yang merasa termotivasi untuk lebih memperhatikan pendidikan ruhani anak sejak usia dini.

Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antar ibu balita, berbagi pengalaman, serta mempererat sinergi antara penyuluh agama dengan masyarakat dalam membangun keluarga yang harmonis dan religius. (rp/azd)

Skip to content