Banjarnegara (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Rakit, Endah Widyawati, memberikan pembinaan kepada ibu-ibu Posyandu Lansia dengan menerapkan metode Emotional Freedom Technique (EFT) sebagai upaya membantu peserta merilis emosi secara mandiri, Senin (4/5/2026), bertempat di Kelompok Binaan (KB) Posyandu Budi Kasiroh 1, Desa Pingit.
Dalam penyampaiannya, Endah menjelaskan bahwa EFT merupakan teknik sederhana yang dapat digunakan untuk membantu mengelola emosi negatif seperti kecemasan, stres, maupun kesedihan. Metode ini dilakukan dengan cara mengetuk titik-titik tertentu pada tubuh sambil mengucapkan afirmasi positif, sehingga membantu menenangkan pikiran dan perasaan.
“Melalui EFT, ibu-ibu dapat belajar menerapi diri sendiri. Ini sangat penting, terutama bagi lansia yang sering mengalami perubahan emosional akibat faktor usia maupun kondisi kesehatan,” ungkap Endah.
Kegiatan berlangsung dengan suasana hangat dan interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan praktik EFT yang dipandu langsung oleh penyuluh. Tidak hanya teori, mereka juga diajak mempraktikkan teknik tersebut secara langsung agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Endah, pendekatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan yang tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga kesehatan mental dan emosional masyarakat. Ia berharap, dengan kemampuan mengelola emosi secara mandiri, para lansia dapat menjalani kehidupan yang lebih tenang, sehat, dan bahagia.
Ketua TP PKK Desa Pingit, Nurcahyati, menyambut gembira atas kehadiran penyuluh agama yang dinilai aktif dalam setiap kegiatan Posyandu Budi Kasiroh Desa Pingit. Ia mengungkapkan bahwa materi yang disampaikan sangat bermanfaat dan aplikatif bagi masyarakat, khususnya para lansia.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Ibu Endah yang selalu aktif mendampingi kegiatan Posyandu. Apalagi dengan tambahan materi seperti EFT ini yang mudah dipraktikkan dan sangat membantu ibu-ibu dalam mengelola emosi sehari-hari,” ujarnya.
Kegiatan ini juga mendapat respon positif dari para peserta yang merasa terbantu dengan metode yang mudah dipahami dan dipraktikkan. Ke depan, pembinaan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan sebagai bentuk sinergi antara penyuluhan agama dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
(ew/azd)







