Banjarnegara (Humas) – Senin pagi (9/3/2026) di halaman SMK Negeri 1 Pagentan suasananya beda banget dari biasanya. Bukannya deru mesin praktik atau suara riuh ganti jam pelajaran, suasana justru terasa adem dan penuh khidmat. Sebanyak 417 siswa berkumpul di halaman terbuka untuk mengikuti kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) dalam rangkaian Pesantren Ramadan.
Narasumber yang hadir pun asyik banget, yaitu M. Syaiful Abidin, penyuluh agama Islam dari KUA Pagentan. Dengan gaya santai khas anak muda, Syaiful membawakan tema yang sangat relatable: “Hikmah Puasa dalam Sudut Pandang Remaja Islami”.
Syaiful menekankan bahwa puasa buat remaja zaman sekarang bukan cuma soal menahan haus dari subuh sampai maghrib, tapi lebih ke arah self-control alias pengendalian diri. Di tengah gempuran media sosial dan tren yang makin cepat, puasa adalah momen terbaik buat “detoks” hati dan pikiran.
“Puasa itu ibarat tombol reset buat kita semua. Buat kalian para remaja, hikmah puasa itu keren banget kalau dilihat dari sisi mental. Kalian dilatih buat nggak gampang ‘sumbu pendek’ atau emosian, lebih sabar menghadapi tekanan, dan pastinya melatih empati buat berbagi. Jadi, puasa itu bukan beban, tapi cara Allah bikin kalian jadi pribadi yang lebih tangguh,” ujar M. Syaiful Abidin di hadapan ratusan siswa.
Pihak sekolah pun menyambut positif kegiatan ini. Dengan jumlah peserta mencapai ratusan, pesan-pesan moral seperti ini dirasa sangat penting untuk membentengi karakter siswa di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Indra Kurniawan, selaku Wakil Kepala SMK Negeri 1 Pagentan, merasa bangga melihat antusiasme para siswanya yang tetap semangat meski sedang berpuasa di bawah terik matahari pagi yang mulai menghangat.
“Kami sangat berterima kasih kepada KUA Pagentan atas kolaborasi ini. Lewat materi yang disampaikan Pak Syaiful, kami berharap 417 siswa yang hadir hari ini tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban puasa, tapi benar-benar bisa mengambil nilai disiplin dan kejujuran untuk diterapkan dalam belajar sehari-hari,” ungkap Indra Kurniawan.
Kegiatan yang berlangsung santai tapi berisi ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang seru, membuktikan kalau urusan agama nggak selamanya harus kaku, asalkan dikemas dengan cara yang pas buat generasi masa kini.
(msa/azd)







