PMR MTs Negeri 1 Banjarnegara lawan SMP/MTs Se-Kabupaten di Ajang Invitasi PMR (Lomba Cepat Tepat)

Banjarnegara (Humas) – Mengawali bulan lahirnya PMI kabupaten Banjarnegara menyelenggarakan kegiatan Invitasi PMR mula (Lomba Cepat Tepat) yang diselenggarakan di SMA Negeri 1 Bawang. Peserta berdatangan dari segala penjuru Banjarnegara. Tak terkecuali dari MTs Negeri 1 Banjarnegara yang pesertanya sudah bersiap sejak pagi dengan seragam merah dan rompi khas PMR. (6/9)

Peserta lomba adalah siswa SMP/MTs di Banjarnegara yang mewakilkan 1 tim terdiri dari 3 siswa.

MTs Negeri 1 Banjarnegara mengutus 3 srikandi PMR yaitu Gaida, Aurel dan Alin. Bersama Erma dan Hani sebagai pembimbing PMR, para peserta sudah mempersiapkan diri menghadapi perlombaan ini sejak jauh-jauh hari.

Kegigihan mereka terlihat beberapa minggu belakang yang belajar setiap hari dengan semangat tak kenal lelah. Banyak materi yang harus mereka pelajari. “materi yang kami pelajari lumayan banyak, karena setiap materi punay sub bab lagi. Jadi memang butuh waktu lama buat bener-bener memahami semua” Cerita Alin, salah satu peserta lomba.

“Kami belajar sudah sejak lama, beberapa materi yang kami pelajari itu ada Pertolongan Pertama, Perawatan Keluarga, Kesehatan Remaja, Siaga Bencana, Kepalangmerahan, Donor darah dan Kepemimpinan. Dari semua materi itu saya paling suka tentang kepalangmerahan, yang isinya sejarah terbentuknya palang merah baik dunia internasional ataupun di Indonesia” ungkap Aurel saat ditanya persiapan materi lomba.  

Sebelum waktu dibiarkan melewati pukul 8, peserta sudah bersiap meminta doa restu dan berangkat ke SMA Negeri 1 Bawang. Aroma pagi di SMA Negeri 1 Bawang pada Sabtu, 6 September 2025, terasa berbeda. Bukan hanya karena matahari yang sangat terang menerpa tetapi juga karena aura ketegangan dan semangat juang yang menyelimuti seluruh penjuru sekolah.

Di antara ratusan peserta yang berdatangan Gaida, Aurel, dan Alin, duta dari MTs Negeri 1 Banjarnegara berbaur dan menempati tempat duduk masing-masing sesuai dengan nomor yang telah ditentukan panitia. Meski duduk berjauhan mereka tetap optimis dan percaya diri dengan kemampuan msing-masing.

Ketua panitia menyambut para peserta dengan pesannya, “kalian berada disini sebagai perwakilan sekolah masing-masing. Artinya kalian adalah anak-anak terbaik yang dipercaya sekolah. Semoga disini kalian tidak hanya belajar bagaimana bisa menang tapi belajar bagaimana menjadi PMR sesungguhnya, yaitu yang memiliki kepedulian dan empati tinggi. Kalian adalah kader-kader untuk mengapliksikan kepedulian sesama di sekolah.” Noor Tamami menyampaikan.

Mereka harus melewati babak penyisihan dengan mengerjakan 100 soal dalam waktu terbatas yaitu 60 menit. Sistem pengerjaan soal adalah menggunakan perangkat elektronik handphone masing-masing peserta. Suasana menegangkan berkali lipat segera menyelimuti ruangan tersebut. Para pembimbing dipersilahkan meninggalkan ruangan dan panitia dengan teliti mengawasi para peserta mengerjakan soal.

Waktu 60 menit terlewati semua peserta meninggalkan meja ujian dengan membawa ketegangan dan rasa penasaran akan hasilnya. Tak butuh waktu lama panitia telah mengakumulasi nilai dari masing-masing anggota tim.

Tak disangka hasil yang begitu membanggakan diraih oleh Gaida, Aurel dan Alin. MTs negeri 1 Banjarnegara menjadi nomor 1 di babak ini. Senyum lebar dan keceriaan segera memuncak memenuhi wajah-wajah mereka. Ditambah ketika panitia mengumumkan hasil peringkat di layar depan. Teriakan Gaida dan tim segera menyambar. “Alhamdulilah hasilnya bagus, senengnyaa. Ayo- ayo semangat di babak berikutnya” ucap Gaida.

Segera setelahnya panitia menyiapkan setting tempat duduk di babak perempat final ini. Paada babak ini mereka langsung bekerja sama secara tim. Masih mengerjakan dengan perangkat elektronik, 1 tim dengan 1 perangkat. Soal yang dikerjakan sebanyak 25 butir dan waktu 20 menit.

Dalam babak perempat final, persaingan semakin ketat. Tim dari MTs Negeri 1 Banjarnegara menunjukkan performa maksimal dan memberikan perlawanan yang sengit. Meskipun akhirnya langkah mereka terhenti di babak ini dan terpaksa mundur dengan hasil yang diterima serta harus merelakan untuk berhenti berjuang sampai babak perempat final. Namun, pencapaian mereka patut diacungi jempol.

“Tidak ada ilmu yang sia-sia” ucap Gaida kepada tim, Aurel pun menimpali “setuju, meski rasanya kecewa dan sedih tapi pasti suatu hari bermanfaat”. “Iya betul, menang kalah memang biasa” Alin menimpali.

Perjalanan tim PMR MTs Negeri 1 Banjarnegara di LCT ini tidaklah mudah. Mereka harus bersaing ketat dengan tim-tim tangguh lainnya dari sekolah-sekolah unggulan di Banjarnegara. Meskipun demikian, kerja sama tim yang solid dan persiapan yang matang membuat mereka berhasil melaju hingga babak perempat final.

“Keberhasilan bukan hanya dengan menjadi juara, tetapi tentang bagaimana proses yang dilalui dan perjuangan dengan banyak pengorbanan waktu, tenaga dan banyak hal. Mereka sudah sangat luar biasa untuk sampai pada titik ini, saya sangat kagum dengan kegigihan mereka untuk belajar tanpa lelah.” Hani menyampaikan.

“Menang kalah itu biasa, tak perlu putus asa dan kecewa. Sampai disini kalian sudah sangat keren”. Imbuh Erma ketika memberi semangat tim.

Keberhasilan Gaida, Aurel, dan Alin mencapai babak perempat final adalah bukti nyata dari dedikasi dan kerja keras mereka dalam mendalami ilmu kepalangmerahan.

Hal lain yang perlu diingat adalah bagaimana menjadi PMR yang memiliki empati dan kepedulian sesama di era perkembangan teknologi dan media sosial yang penuh dengan hal-hal negatif. PMR harus memiliki jiwa sosial penuh kepekaan yang selalu melekat dimana pun berada dan kepada siapa pun. (Han/La)

Skip to content