Puisi Haru di Ujung Pengabdian, Guru MIFABARA Persembahkan Karya untuk Rekan Seperjuangan

Banjarnegara – Suasana haru menyelimuti keluarga besar MIFABARA dalam sebuah momen istimewa yang penuh makna. Salah satu guru MIFABARA menciptakan sebuah karya puisi yang dipersembahkan khusus untuk rekan kerjanya yang telah mengabdikan diri sebagai guru wiyata hingga usia 60 tahun, tanpa pernah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).(16/5)

Puisi tersebut menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi panjang yang penuh keikhlasan dan perjuangan dalam dunia pendidikan. Selama puluhan tahun, sosok guru tersebut yang memiliki nama Siti Fatimah telah memberikan tenaga, waktu, dan pikirannya demi mencerdaskan generasi, meski tanpa status dan jaminan yang seringkali menjadi harapan banyak tenaga pendidik.

Momen semakin mengharukan ketika puisi itu dibacakan oleh Wahyu tepat di perayaan ulang tahun ke-60 sang guru. Dengan suara yang penuh penghayatan, setiap bait puisi mengalir menyentuh hati para hadirin. Tak sedikit yang tampak menitikkan air mata, larut dalam suasana penuh penghormatan dan rasa terima kasih.

Salah satu rekan guru menyampaikan bahwa dedikasi seperti ini adalah teladan nyata bagi generasi pendidik masa kini. “Beliau mengajarkan kepada kita bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi panggilan jiwa yang dijalani dengan ketulusan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, juga disampaikan pesan motivasi dan inspirasi bagi seluruh guru dan tenaga kependidikan. Bahwa setiap bentuk pengabdian, sekecil apa pun, akan selalu memiliki makna besar jika dilakukan dengan hati yang tulus. Pengakuan mungkin tidak selalu datang dalam bentuk jabatan atau status, tetapi nilai perjuangan akan selalu hidup dalam setiap generasi yang pernah disentuh oleh ilmu dan keteladanan seorang guru.

MIFABARA menegaskan bahwa kisah ini menjadi pengingat penting bahwa dedikasi tidak diukur dari gelar, melainkan dari dampak yang ditinggalkan. Semangat pengabdian sang guru diharapkan mampu menginspirasi para pendidik lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan mengabdi tanpa lelah demi masa depan anak bangsa. Momen ini pun menjadi bukti bahwa apresiasi tidak harus menunggu pengakuan formal. Melalui karya puisi yang sederhana namun penuh makna, terukir penghormatan yang abadi bagi seorang guru yang telah mengabdikan hidupnya dengan sepenuh hati.(nas

Skip to content