Banjarnegara (Humas) – Peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan fisik dan spiritual Nabi Muhammad saw., yang luar biasa, melainkan sebuah oase di tengah padang pasir ujian kehidupan. Semangat inilah yang dibawa oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan saat menggelar kegiatan bimbingan penyuluhan di hadapan 43 jamaah Majelis Taklim (MT) Nasyiatul ‘Aisyiyah Ranting Metawana, Jumat (9/1/2026).
Bertempat di Teras Masjid Baiturrahman Metawana, suasana penyuluhan berlangsung hangat namun sarat akan makna. Materi bertajuk “Tahun Kesedihan: Kisah Getir di Balik Perjalanan Isra Mikraj” menjadi benang merah dalam pertemuan tersebut. Narasumber utama, M. Syaiful Abidin, yang merupakan Penyuluh Agama Islam KUA Pagentan, membedah sisi kemanusiaan Rasulullah saw., saat menghadapi fase Amul Huzni.
Dalam tausiyahnya, Syaiful menjelaskan bahwa sebelum Rasulullah saw., diperjalankan menuju Sidratul Muntaha, beliau diuji dengan wafatnya dua pilar pendukung dakwahnya: Siti Khadijah dan Abu Thalib. Kehilangan tersebut menciptakan duka mendalam yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai Tahun Kesedihan.
“Kita diajarkan bahwa kesedihan adalah hal yang manusiawi. Namun, melalui Isra Mikraj, Allah menunjukkan bahwa di balik titik terendah seorang hamba, ada kemuliaan yang sedang dipersiapkan,” papar Syaiful. Ia mengajak para ibu-ibu jamaah untuk tidak larut dalam keputusasaan saat menghadapi problematika hidup, baik itu persoalan ekonomi maupun keharmonisan keluarga.
Kehadiran KUA Pagentan di tengah masyarakat Metawana ini mendapat apresiasi tinggi. Rismawati, Ketua MT Nasyiatul ‘Aisyiyah Ranting Metawana, menyebutkan bahwa pendampingan seperti ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual warga.
“Materi ini sangat menyentuh. Kami diingatkan bahwa setiap ujian adalah jalan untuk lebih dekat dengan Allah. Ini menjadi modal semangat bagi kami dalam menjalani peran sebagai ibu dan anggota masyarakat,” tutur Rismawati.
Kegiatan yang ditutup dengan sesi diskusi interaktif dan doa bersama ini menegaskan peran KUA tidak hanya sebagai lembaga administrasi pernikahan, tetapi juga sebagai pusat bimbingan moral bagi masyarakat. Syaiful Abidin berharap, pemahaman yang mendalam mengenai sirah nabawiyah dapat membentuk karakter masyarakat yang tangguh dan religius di wilayah Kecamatan Pagentan.Melalui bimbingan rutin ini, KUA Pagentan berkomitmen untuk terus hadir mendampingi majelis-majelis taklim demi mewujudkan masyarakat yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual dalam menghadapi dinamika zaman yang kian menantang.
(msa/ azd)







