Banjarnegara (Humas) – Esensi ibadah Iduladha tidak sekadar ritual menyembelih hewan kurban, melainkan juga simbol perjuangan melawan hawa nafsu dan keegoisan diri di era modern. Pesan mendalam inilah yang menjadi inti sari khotbah Iduladha yang disampaikan oleh Penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan, Nasta’in, di Lapangan Andalas Sianturi, Desa Kayuares, pada Rabu (27/5/2026).
Pelaksanaan salat Iduladha yang berlangsung khidmat di bawah naungan tenda terbuka ini dihadiri oleh sekitar 90 orang jamaah. Di antara barisan saf, tampak hadir Kepala Desa Kayuares, Kodam, bersama jajaran perangkat desa, serta tokoh masyarakat setempat yang membaur bersama warga.
Dalam khotbahnya yang mengusung tema “Menyembelih Ego di Tengah Zaman yang Semakin Egois”, Nasta’in menekankan pentingnya meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Di tengah gempuran zaman digital yang cenderung membuat manusia lebih individualistis, semangat berkorban demi kemaslahatan bersama harus terus dihidupkan.
“Hari ini kita tidak hanya diajak untuk mengalirkan darah hewan kurban, tetapi yang jauh lebih penting adalah menyembelih ego pribadi kita. Di tengah zaman yang semakin egois ini, sifat merasa paling benar, paling hebat, dan acuh terhadap lingkungan sekitar adalah ‘penyakit’ yang harus kita korbankan agar tumbuh rasa kepedulian sosial yang tulus,” ujar Nasta’in di hadapan para jamaah.
Tema khotbah yang sangat relevan dengan realitas sosial saat ini mendapat apresiasi mendalam dari Pemerintah Desa Kayuares. Kepala Desa Kayuares, Kodam, menyatakan bahwa pesan yang disampaikan oleh sang khatib menjadi refleksi penting bagi seluruh warganya, khususnya dalam menjaga kerukunan dan kegotongroyongan.
“Kami selaku pemerintah desa sangat menyentuh dengan apa yang disampaikan oleh Pak Nasta’in. Pesan untuk ‘menyembelih ego’ ini menjadi teguran sekaligus motivasi bagi saya, perangkat desa, dan seluruh warga Kayuares untuk terus menurunkan ego sektoral demi membangun desa yang lebih harmonis dan peduli satu sama lain,” ungkap Kodam selepas pelaksanaan salat.
Meski digelar secara bersahaja di lapangan terbuka dengan latar pemandangan perbukitan hijau khas Pagentan, kekhusyukan jamaah tidak berkurang sedikit pun. Acara diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan jabat tangan antarwarga sebagai simbol meleburnya ego dan diperkuatnya tali silaturahmi.
(nt/azd)
