Banjarnegara (Humas) – Mengubah paradigma tentang makna kebahagiaan dan kemenangan spiritual, Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Pagentan, M. Syaiful Abidin, menggelar bimbingan penyuluhan yang mencerahkan di Majelis Taklim (MT) Nurul Hidayah Gumingsir, Selasa (7/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung khidmat di salah satu ruang kelas Darul Athfal (DA) Cokroaminoto Gumingsir ini diikuti oleh 23 orang jamaah yang merupakan wali siswa lembaga pendidikan tersebut. Mengusung tema yang menggugah, “Setiap Hari Bisa Jadi Hari Rayamu”, Syaiful mengajak para ibu wali murid untuk memaknai hari raya lebih dari sekadar perayaan tahunan yang identik dengan baju baru dan hidangan mewah.
Dalam pemaparannya, M. Syaiful Abidin menekankan bahwa esensi hari raya terletak pada kebersihan hati dan konsistensi iman. Ia mengutip filosofi mendalam dari sahabat Rasulullah SAW untuk memperkuat argumennya.
“Sayyidina Ali bin Abi Thalib memberi kita mindset yang mengubah segalanya. Hari Raya itu adalah saat imanmu naik level. Ini bukan tentang seberapa mewah tampilan luarmu, tapi tentang status dosamu, sudahkah diampuni? Setiap fajar yang kita lalui tanpa berbuat dosa adalah perayaan kemenangan sejati. Jadi, ubah kebiasaanmu: jika kamu berhasil menahan diri dari maksiat hari ini, rayakanlah, sebab itulah Hari Raya yang sesungguhnya!” tegas Syaiful di hadapan para jamaah.
Materi ini dirasa sangat relevan bagi para orang tua dalam mendidik anak-anak mereka di rumah. Syaiful menjelaskan bahwa dengan menjaga lisan, menghindari ghibah, dan menjalankan kewajiban harian dengan ikhlas, setiap individu sebenarnya sedang merayakan “Id” atau kembali pada fitrahnya setiap hari.
Ketua MT Nurul Hidayah sekaligus Kepala DA Cokroaminoto Gumingsir, Aji Nurwibowo, menyambut baik inisiatif bimbingan penyuluhan ini. Menurutnya, siraman rohani seperti ini sangat dibutuhkan untuk mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan kualitas spiritual para orang tua siswa.
“Kami sangat bersyukur atas kehadiran penyuluh dari KUA Pagentan. Materi ini menjadi pengingat bagi kami semua, terutama para wali siswa, bahwa menjadi shalih dan shalihah itu adalah perjuangan harian. Jika kita bisa mendidik anak-anak dengan teladan tanpa kemaksiatan hari demi hari, maka rumah tangga kita pun akan selalu diliputi suasana hari raya yang penuh berkah,” ujar Aji Nurwibowo.
Kegiatan yang dimulai sejak pagi hari ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif dan doa bersama. Para jamaah tampak antusias menyimak, bahkan beberapa di antaranya mengaku mendapatkan sudut pandang baru dalam menghadapi dinamika kehidupan sehari-hari melalui pendekatan agama yang lebih aplikatif.
Diharapkan, melalui sinergi antara KUA Pagentan dan lembaga pendidikan di desa-desa seperti Gumingsir, pemahaman keagamaan masyarakat dapat terus meningkat, menciptakan lingkungan yang religius dan harmonis bagi tumbuh kembang generasi muda.
(msa/azd)







