Banjarnegara (Humas) – Penguatan ekonomi masyarakat tidak akan berjalan optimal tanpa diimbangi dengan kokohnya fondasi mental dan spiritual. Menyadari hal tersebut, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pagentan terus aktif turun ke desa-desa untuk memberikan pembinaan. Pada Kamis (11/6/2026), Alfiana Nurhidayah, selaku Penyuluh Agama Islam KUA Pagentan, hadir mengisi siraman rohani dalam forum Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) bagi Kelompok Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Gumingsir.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai ini berpusat di salah satu rumah koordinator kelompok di Desa Gumingsir. Agenda rutin bulanan ini menjadi lebih istimewa dengan hadirnya penyuluhan agama yang memadukan motivasi sosial dan nilai-nilai ketauhidan. Jalannya acara didampingi langsung oleh Pendamping Sosial PKH Desa Gumingsir, Nur Hakim, serta diikuti oleh puluhan Ibu-ibu penerima manfaat dengan penuh khidmat.
Mengusung tema “Menjemput Keberkahan Hidup: Mengubah Tangan di Bawah Menjadi Tangan di Atas Lewat Semangat Kemandirian,” Alfiana Nurhidayah mengajak para peserta untuk merefleksikan makna bantuan sosial dari sudut pandang agama. Ia menekankan bahwa status sebagai penerima manfaat merupakan fase sementara yang harus disikapi dengan ikhtiar nyata untuk bangkit dan mandiri.
“Bantuan PKH yang Ibu-ibu terima setiap tahapnya adalah bentuk perhatian dari pemerintah sekaligus ujian amanah dari Allah. Agama mengajarkan kita bahwa tangan di atas atau memberi itu jauh lebih mulia daripada tangan di bawah atau menerima. Oleh karena itu, mari kita jadikan bantuan ini sebagai modal stimulan untuk memperbaiki ekonomi, sembari terus berdoa dan berusaha agar suatu hari nanti, giliran kita yang menjadi muzakki atau pemberi zakat dan penolong bagi orang lain,” papar Alfiana di hadapan para peserta.
Lebih lanjut, Alfiana juga mengupas pentingnya menjaga keharmonisan rumah tangga. Menurutnya, rezeki yang berkah tidak selalu diukur dari jumlahnya, melainkan dari ketenangan jiwa dan kebahagiaan yang dirasakan oleh seluruh anggota keluarga di dalam rumah.
Pendekatan penyuluhan yang menyentuh sisi emosional dan spiritual ini mendapat sambutan hangat. Sesi diskusi pasca-materi berlangsung dinamis, di mana beberapa peserta berkonsultasi mengenai pengelolaan ekonomi rumah tangga yang amanah dan berkah menurut syariat.
Pendamping Sosial PKH Desa Gumingsir, Nur Hakim, menyatakan bahwa kehadiran Penyuluh Agama Islam memberikan dimensi baru yang sangat positif dalam program pendampingan sosial yang selama ini ia jalankan.
“Kami sangat mengapresiasi materi luar biasa yang disampaikan oleh Ibu Alfiana. Selama ini, fokus kami di PKH adalah memastikan bantuan tepat sasaran untuk pendidikan dan kesehatan, serta memotivasi mereka secara ekonomi. Namun, suntikan rohani mengenai konsep syukur, berkah, dan mentalitas ‘tangan di atas’ ini adalah kepingan puzzle yang menyempurnakan pembinaan kami. Sinergi ini membuat Ibu-ibu KPM di Desa Gumingsir tidak hanya cerdas mengelola bantuan, tetapi juga memiliki mental yang tangguh untuk mandiri,” ujar Nur Hakim.
Melalui kegiatan terpadu ini, KUA Pagentan berharap dapat terus memperluas jangkauan bimbingan keagamaan ke berbagai sektor komunal, guna mewujudkan masyarakat Pagentan yang tidak hanya sejahtera secara material, tetapi juga kaya secara spiritual.
(an/azd)
