Sinergi Spiritual dan Sosial: Penyuluh Agama KUA Pagentan Perkuat Mentalitas KPM PKH Desa Majasari

Banjarnegara (Humas) – Di tengah upaya pemerintah meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui bantuan sosial, penguatan sisi spiritualitas menjadi fondasi yang tidak boleh terabaikan. Pada Rabu (6/5/2026), Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Pagentan, Alfiana Nurhidayah, menggelar kegiatan bimbingan penyuluhan yang menyasar Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan (KPM PKH) di Desa Majasari, Kecamatan Pagentan.

Kegiatan yang dimulai tepat pukul 10.00 WIB ini berlangsung di balai pertemuan warga dengan suasana yang khidmat namun interaktif. Kehadiran Alfiana Nurhidayah di Desa Majasari kali ini tidak sendirian; ia didampingi oleh dua sosok penggerak sosial, yakni pendamping PKH Niken Saraswati dan Noviatun Salamah. Kolaborasi lintas sektor ini bertujuan untuk menyelaraskan bantuan materiil yang diterima warga dengan kekayaan batin dan kemandirian mental.

Dalam penyuluhannya, Alfiana menekankan bahwa keberkahan dalam keluarga tidak hanya diukur dari nominal rupiah yang diterima, melainkan dari cara mengelola amanah tersebut dengan rasa syukur. Ia mengajak para ibu peserta PKH untuk menjadikan bantuan pemerintah sebagai batu loncatan menuju kemandirian, bukan sebagai ketergantungan permanen.

“Agama mengajarkan kita untuk selalu berusaha menjadi tangan di atas. Bantuan PKH ini adalah amanah sekaligus wasilah agar ibu-ibu bisa menyekolahkan anak setinggi mungkin dan menjaga kesehatan keluarga. Jika mentalitas kita adalah mentalitas syukur dan kerja keras, maka kemandirian ekonomi itu bukan lagi impian, tapi keniscayaan,” tegas Alfiana Nurhidayah di hadapan para peserta.

Materi yang disampaikan mencakup manajemen konflik keluarga, pentingnya pendidikan karakter bagi anak, hingga kiat-kiat menjaga kerukunan antarwarga di lingkungan Desa Majasari. Niken Saraswati, selaku pendamping PKH, memberikan apresiasi atas sentuhan religius yang diberikan oleh penyuluh agama. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat (behavior change) seringkali lebih efektif jika disentuh melalui pendekatan nilai-nilai keagamaan.

“Kami sangat terbantu dengan kehadiran Ibu Alfiana. Tugas kami sebagai pendamping PKH seringkali fokus pada teknis administrasi dan penyaluran, namun penguatan hati dan motivasi hidup adalah ranah yang sangat dikuasai oleh penyuluh agama. Sinergi ini membuat para KPM merasa lebih diperhatikan secara utuh, baik fisik maupun batinnya,” ujar Niken Saraswati.

Sementara itu, Noviatun Salamah menambahkan bahwa pertemuan rutin seperti ini sangat krusial untuk memastikan bahwa bantuan sosial benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas hidup. Melalui bimbingan ini, diharapkan warga Desa Majasari tidak hanya cerdas dalam mengelola bantuan, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih religius dan tangguh dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Kegiatan berakhir dengan sesi doa bersama dan konsultasi singkat mengenai masalah keagamaan dan keluarga. Semangat kolaboratif antara KUA Pagentan dan pendamping sosial ini diharapkan dapat menjadi model bagi desa-desa lain di wilayah Pagentan untuk menciptakan masyarakat yang berdaya, sejahtera, dan religius.

(an/azd)

Skip to content