Siswa Kelas Riset Madtsansa Teliti Jejak Karbon Batik di Batik Wardah Gumelem

Banjarnegara (Humas) –  Kamis (31/7), dua siswa kelas VIII riset MTs Negeri 1 Banjarnegara Kalila dan Alin melakukan kunjungan penelitian ke Batik Wardah Gumelem, didampingi guru pembimbing Musfiatul Muniroh. Penelitian ini bertujuan menelusuri jejak karbon dalam proses pembuatan batik, sekaligus memahami langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri batik.

Kunjungan ini disambut langsung oleh pemilik sekaligus pengrajin Batik Wardah, Budi. Dalam sambutannya, Budi menyampaikan rasa senang dan apresiasi atas ketertarikan generasi muda terhadap batik, tidak hanya dari sisi seni dan budaya, tetapi juga aspek lingkungan.

“Kami sangat senang ada siswa yang meneliti jejak karbon batik. Batik itu memang bagian dari budaya, tapi kita juga harus sadar bahwa prosesnya, terutama yang menggunakan bahan kimia, bisa berdampak pada lingkungan. Upaya-upaya untuk mengurangi limbah dan memanfaatkan bahan ramah lingkungan sudah mulai kami lakukan, meskipun masih ada tantangan,” ujar Budi.

Budi juga menjelaskan tahapan produksi batik di Batik Wardah, mulai dari persiapan kain, pembuatan pola, pewarnaan, hingga proses finishing. Dalam setiap tahap, ada penggunaan energi, air, dan bahan yang berpotensi menghasilkan emisi karbon.

Musfiatul Muniroh, guru pembimbing riset, menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari proyek penelitian siswa kelas riset yang fokus pada isu lingkungan dan keberlanjutan.

“Kami ingin membekali anak-anak agar peka terhadap isu global seperti perubahan iklim. Melalui penelitian ini, mereka belajar mengukur, menganalisis, dan mencari solusi dari permasalahan nyata. Batik sebagai warisan budaya bisa menjadi contoh bagaimana tradisi dipadukan dengan kesadaran lingkungan,” jelas Musfiatul.

Berdasarkan observasi lapangan, Kalila dan Alin mencatat beberapa sumber emisi karbon pada proses pembuatan batik tulis dan cap di Batik Wardah:

1. Pemanasan lilin (malam): Proses ini menggunakan kompor gas kecil rata-rata 4–5 jam per hari produksi. Estimasi emisi gas LPG mencapai ±0,8 kg CO₂ per hari.

2. Pewarnaan: Pewarna sintetis memerlukan air panas dan zat kimia. Pemanasan air dengan LPG diperkirakan menghasilkan ±0,5 kg CO₂ per batch pewarnaan.

3. Pencucian kain: Menggunakan air bersih dengan debit ±50–70 liter per kain, serta pembuangan limbah cair ke saluran umum yang berpotensi menghasilkan jejak karbon tidak langsung dari pengolahan air limbah.

4. Pengeringan:  Proses pengeringan dilakukan alami di bawah sinar matahari, sehingga tidak menambah emisi signifikan.

Kalila menjelaskan bahwa mereka akan melakukan konversi total penggunaan energi menjadi perkiraan jejak karbon per lembar batik.

“Dari data awal, satu lembar batik ukuran sedang berpotensi menghasilkan 1–1,5 kg CO₂ ekuivalen, tergantung kompleksitas prosesnya. Angka ini akan kami perbandingkan dengan metode ramah lingkungan seperti penggunaan pewarna alami dan efisiensi energi,” kata Kalila.

Sementara itu, Alin menambahkan bahwa mereka juga tertarik melihat upaya kreatif Batik Wardah dalam mengelola limbah dan mencoba bahan pewarna alami.

“Kami senang melihat ada eksperimen dengan pewarna alami yang lebih ramah lingkungan. Ini bisa menjadi salah satu cara menekan jejak karbon sekaligus menambah nilai jual batik,” kata Alin.

Dalam sesi kunjungan, para siswa berkesempatan berdiskusi langsung dengan Budi di ruang tamu Batik Wardah. Diskusi berlangsung santai namun penuh wawasan, mencakup topik teknis seperti jenis pewarna yang digunakan, efisiensi energi dalam proses produksi, hingga potensi inovasi teknologi ramah lingkungan untuk industri batik skala rumahan.

Budi menutup pertemuan dengan harapan agar penelitian ini tidak hanya berhenti di laporan sekolah, tetapi bisa menginspirasi lebih banyak pihak untuk peduli pada kelestarian lingkungan.

“Batik itu identitas kita. Kalau bisa diproduksi dengan cara yang lebih ramah lingkungan, itu akan menjadi kebanggaan. Semoga anak-anak ini bisa membawa hasil risetnya ke forum yang lebih luas,” tutup Budi.

Penelitian lapangan ini menjadi salah satu langkah konkret siswa kelas riset untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dengan praktik di lapangan. Hasil riset Kalila dan Alin diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang bermanfaat, tidak hanya bagi Batik Wardah, tetapi juga bagi pelaku batik lain di Gumelem dan sekitarnya. (Lin/La)

Skip to content