Banjarnegara (Humas) – Gema takbir Idulfitri mungkin baru saja berlalu, namun semangat ibadah layaknya di bulan suci tidak boleh ikut meredup. Hal inilah yang menjadi pemantik utama dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama yang digelar oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan di Desa Gumingsir, Jumat (17/4/2026).
Bertempat di selasar Majelis Taklim Al-Hidayah, suasana tampak khidmat sekaligus hangat. Sebanyak 45 jamaah yang didominasi ibu-ibu antusias menyimak materi yang disampaikan oleh Sutrisno, Penyuluh Agama Islam fungsional KUA Pagentan. Agenda ini bertujuan untuk menjaga ritme spiritualitas masyarakat pasca-Ramadan agar tetap konsisten dalam menjalankan ibadah harian.
Dalam tausiyahnya, Sutrisno menekankan bahwa keberhasilan seorang mukmin dalam menjalankan puasa Ramadan diukur dari perilakunya di bulan-bulan berikutnya. Ia mengibaratkan Ramadan sebagai “kawah candradimuka” yang seharusnya membentuk karakter disiplin dalam beribadah.
“Banyak dari kita yang merasa lemas atau kehilangan semangat beribadah setelah Ramadan usai. Padahal, Allah yang kita sembah di bulan Ramadan adalah Allah yang sama yang kita sembah di bulan Syawal dan seterusnya. Ibadah itu bukan musiman, tapi kebutuhan sepanjang hayat,” ujar Sutrisno di hadapan para jamaah.
Ia juga memberikan tips praktis agar jamaah tetap ringan dalam menjalankan salat malam, tadarus Al-Qur’an, dan sedekah, meski kesibukan bertani dan berdagang kembali normal. “Mulailah dari yang paling ringan, namun dilakukan secara terus-menerus (istiqamah). Itulah amalan yang paling dicintai Allah,” tambahnya.
Kegiatan ini mendapat sambutan luar biasa dari pengurus majelis. Ibu Sulastri, selaku Ketua Majelis Taklim Al-Hidayah, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran penyuluh dari KUA yang rutin memberikan bimbingan langsung ke pelosok desa.
“Kami sangat bersyukur Pak Sutrisno berkenan hadir jauh-jauh ke Gumingsir. Jujur saja, setelah lebaran biasanya semangat ibu-ibu agak kendor karena fokus ke pekerjaan rumah dan ladang. Tausiyah tadi seperti ‘charger’ bagi iman kami agar tetap semangat mengaji dan salat tepat waktu seperti saat puasa kemarin,” ungkap Sulastri dengan penuh syukur.
Terpisah, Kepala KUA Pagentan menyatakan bahwa penyuluhan di Majelis Taklim Al-Hidayah ini merupakan bagian dari program kerja rutin untuk memastikan literasi keagamaan menjangkau seluruh lapisan masyarakat di wilayah Kecamatan Pagentan. Dengan adanya pendampingan dari penyuluh seperti Sutrisno, diharapkan masyarakat Desa Gumingsir dapat menjadi pribadi yang lebih religius dan rukun.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif dan doa bersama untuk keberkahan warga desa. Meskipun dilaksanakan secara sederhana, energi positif terpancar dari wajah para jamaah yang berkomitmen untuk tetap “menghidupkan Ramadan” di dalam hati mereka sepanjang tahun.
(3S/azd)







