Sudah Mampu, Tunggu Apa Lagi? Hakikat Kurban bagi Seorang Mukmin

Banjarnegara (Humas) – Hari Raya Iduladha selalu menjadi momentum refleksi tingkat keimanan seorang muslim. Hal inilah yang menjadi sorotan utama dalam materi yang disampaikan oleh Arif Hidayat, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Bawang, di hadapan jemaah Masjid Al-Ikhlas, Desa Gemuruh, Kecamatan Bawang. (22/5/2026)

Dalam penyuluhannya, Arif memberikan sentilan spiritual yang mendalam mengenai hakikat ibadah kurban, khususnya bagi mereka yang secara finansial telah diberikan kelapangan rezeki.

Arif Hidayat menegaskan bahwa ibadah kurban bukan sekadar ritual tahunan memotong hewan dan membagikan dagingnya. Lebih dari itu, kurban adalah bukti autentik dari ketakwaan dan rasa syukur seorang mukmin.

“Bagi kita yang sudah diberikan kecukupan materi, pertanyaannya bukan lagi ‘apakah kita mampu?’, melainkan ‘apakah kita mau?’. Di sinilah keimanan kita sedang diuji,” ujar Arif di hadapan para jemaah.

Beliau juga mengingatkan sebuah hadis yang cukup tegas, di mana Rasulullah SAW bersabda bahwa barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki namun tidak mau berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami. Hadis ini menjadi pengingat keras bahwa kurban bagi yang mampu memiliki dimensi hukum yang sangat kuat secara moral dan spiritual.

Dalam inti penyampaiannya, ada tiga poin utama yang ditekankan mengenai hakikat kurban bagi mukmin yang mampu:

  1. Penyucian Harta dan Jiwa : Kurban menjadi sarana untuk mengikis sifat kikir dan cinta dunia (wahn) yang berlebihan.
  2. Solidaritas Sosial : Melalui daging kurban yang dibagikan, sekat-sekat sosial di Desa Gemuruh dapat dijembatani, membawa kebahagiaan bagi warga yang kurang mampu.
  3. Investasi Akhirat : Harta yang dikurbankan di jalan Allah tidak akan berkurang, melainkan menjadi saksi penolong di akhirat kelak.

Menutup penyuluhannya, Arif Hidayat mengajak seluruh jemaah Masjid Al-Ikhlas yang merasa sudah memiliki kemampuan finansial baik dari hasil tani, dagang, maupun profesi lainnya untuk tidak menunda-nunda niat berkurban.

“Sudah mampu, tunggu apa lagi? Jangan sampai kita membeli barang-barang tersier kita mampu, namun untuk menyembelih satu hewan kurban kita merasa berat. Mari jadikan Idul Adha tahun ini sebagai momentum pembuktian cinta kita kepada Allah dan sesama,” pungkasnya.

Suasana penyuluhan berlangsung khidmat dan interaktif, diakhiri dengan sesi tanya jawab mengenai tata cara serta fikih kurban yang sah bagi warga desa setempat. 

(Arh/azd)  

Skip to content