Banjarnegara – Semangat Amaliyah Ramadhan di MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA) tak hanya bergema di ruang kelas dan serambi masjid, tetapi juga merambah dunia digital. Melalui program “Sahabat Tilawah”, Tim Media MIFABARA menyiarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an para siswa melalui akun TikTok resmi madrasah, sebagai bentuk dakwah kreatif di era teknologi.(28/2)
Program ini menjadi angin segar dalam syiar Ramadhan. Di tengah derasnya arus konten media sosial, MIFABARA menghadirkan oase spiritual berupa bacaan Al-Qur’an dari qori’-qori’ cilik yang penuh penghayatan. Setiap unggahan bukan sekadar video, melainkan jejak langkah kecil menuju cahaya Al-Qur’an yang lebih luas.
Di balik indahnya lantunan itu, ada sosok pelatih tilawah, Afid, guru muda bersuara emas yang dengan sabar membimbing para siswa. Dengan teknik pernapasan yang terarah, tajwid yang tertata, serta sentuhan rasa dalam setiap ayat, Afid perlahan membentuk generasi pecinta Al-Qur’an.
“Tilawah bukan hanya soal merdu, tetapi soal hati yang hidup bersama ayat-ayat Allah. Anak-anak ini kami latih bukan untuk sekadar tampil, tapi agar kelak menjadi generasi dakwah yang menyampaikan kebenaran dengan kelembutan,” tutur Afid dengan penuh harap.
Menurutnya, media sosial bukan untuk dihindari, melainkan diarahkan. Jika digunakan dengan niat yang lurus, platform digital dapat menjadi ladang pahala yang luas. “Bayangkan jika satu ayat yang mereka baca menyentuh hati seseorang. Itu bisa menjadi amal jariyah yang terus mengalir,” tambahnya.
Kepala madrasah MIFABARA turut mengapresiasi langkah Tim Media yang adaptif dan visioner. “Kami ingin Ramadhan ini tidak hanya terasa di lingkungan madrasah, tetapi juga menjangkau masyarakat luas. Dakwah hari ini harus hadir di ruang-ruang yang dilihat generasi muda,” ungkapnya.
Program Sahabat Tilawah menjadi bukti bahwa sinergi iman dan teknologi dapat berjalan seiring. Di balik layar gawai, terselip doa-doa kecil dan cita-cita besar. Dari suara-suara mungil itu, lahir harapan agar Al-Qur’an tak hanya dibaca, tetapi dicintai; tak hanya dilantunkan, tetapi diamalkan.
Ramadhan pun menjadi saksi, bahwa di MIFABARA dakwah tak pernah berhenti, ia tumbuh, bersuara, dan menyinari, bahkan dari genggaman tangan. (nas)
