Tantangan Literasi Ramadhan: Ajeng 5D Maknai Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan sebagai Musim Menanam Kebaikan

 Banjarnegara – Program Tantangan Literasi Ramadhan di MIFABARA kembali menghadirkan tulisan yang sarat makna. Kali ini, Ajeng, siswi kelas 5D, menuliskan refleksi indah tentang perjalanan bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan dengan perumpamaan yang sederhana namun mendalam. Dalam tulisannya, Ajeng mengibaratkan Rajab sebagai bulan bercocok tanam, Sya’ban sebagai bulan menyiram, dan Ramadhan sebagai bulan menuai hasil tanaman.(23/2)

Menurut Ajeng, Rajab adalah waktu terbaik untuk mulai menanam benih-benih kebaikan. “Di bulan Rajab, kita menanam niat baik, memperbaiki shalat, dan mulai meninggalkan kebiasaan buruk. Seperti petani yang menanam padi, kita juga harus menanam amal,” tulisnya penuh semangat. Ia menggambarkan bahwa tanpa menanam, mustahil seseorang berharap panen.

Memasuki Sya’ban, Ajeng mengibaratkannya sebagai bulan menyiram. Amal yang sudah ditanam perlu dirawat dengan konsistensi. Doa, sedekah, membaca Al-Qur’an, serta menjaga lisan menjadi air yang menyuburkan tanaman kebaikan. “Kalau tidak disiram, tanaman akan layu. Kalau amal tidak dijaga, hati juga bisa kering,” tulisnya menyentuh.

Dan ketika Ramadhan tiba, Ajeng menyebutnya sebagai bulan tuaian. Segala ikhtiar sejak Rajab dan Sya’ban akan berbuah pahala, ketenangan hati, dan kedekatan dengan Allah SWT. “Ramadhan adalah waktu kita memanen pahala. Tapi panennya tergantung dari apa yang sudah kita tanam sebelumnya,” lanjutnya dalam paragraf penutup.

Wali kelas 5D mengapresiasi kedalaman makna tulisan Ajeng. “Ajeng mampu menyampaikan pesan spiritual dengan bahasa yang sederhana namun kuat. Ini menunjukkan bahwa literasi bukan hanya tentang menulis, tetapi juga tentang perenungan,” ujarnya.

Kepala Madrasah turut memberikan dukungan terhadap program ini. Ia menyampaikan, “Tantangan literasi Ramadhan melatih siswa untuk berpikir reflektif dan menanamkan nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap kebiasaan menulis ini menjadi ladang amal jariyah ilmu bagi mereka.”

Melalui tulisan Ajeng, seluruh siswa diajak menyadari bahwa Ramadhan bukan sekadar datang dan berlalu. Ia adalah puncak panen dari proses panjang yang telah disiapkan jauh hari. Dan seperti petani yang sabar menanti hasil, setiap kebaikan yang ditanam dengan ikhlas pasti akan berbuah indah pada waktunya.(nas)