Banjarnegara (Humas) – Dua siswa MTs Negeri 1 Banjarnegara, Ahnaf dan Fathur, kembali menunjukkan keseriusan mereka di dunia penelitian. Pada Rabu (13/8), keduanya melaksanakan kegiatan riset di Laboratorium Mikrobiologi Labkesmas Banjarnegara untuk mengembangkan bahan krioprotektan berbasis alami yang bertujuan melindungi sperma ikan brek (Puntius orphoides), ikan endemik yang hanya ditemukan di Sungai Serayu.
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Aloe vera (lidah buaya) dan madu. Keduanya dipilih karena mengandung senyawa aktif dan sifat antioksidan yang diyakini mampu membantu menjaga kualitas sperma ikan saat proses pembekuan dan penyimpanan jangka panjang.
Penelitian ini dilakukan bersama Laboran Ibu Isya yang mendampingi jalannya eksperimen di laboratorium. Kegiatan riset ini juga berada di bawah bimbingan guru pembimbing penelitian MTs Negeri 1 Banjarnegara, Tri Widayati.
Tri Widayati menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan Ahnaf dan Fathur merupakan bagian dari upaya nyata sekolah dalam mendorong siswa untuk terlibat dalam penelitian yang bermanfaat bagi lingkungan dan keanekaragaman hayati.
“Ikan brek adalah salah satu kekayaan alam Banjarnegara yang keberadaannya semakin langka. Dengan riset ini, kami berharap ada kontribusi nyata untuk melestarikan plasma nutfah lokal. Pemilihan bahan alami seperti Aloe vera dan madu juga menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu bergantung pada bahan kimia sintetis,” ungkap Tri Widayati.
Selama proses penelitian, Ahnaf dan Fathur tampak mengenakan jas laboratorium putih, dengan teliti mempersiapkan larutan krioprotektan. Langkah-langkah seperti penimbangan bahan, pencampuran, dan pengujian di bawah kabinet biosafety dilakukan sesuai protokol laboratorium.
Ahnaf, salah satu anggota tim riset, menyampaikan motivasinya mengikuti penelitian ini.
“Saya ingin memberikan kontribusi untuk lingkungan, terutama pada pelestarian ikan endemik. Dengan metode kriopreservasi ini, sperma ikan bisa disimpan dalam jangka waktu lama sehingga memudahkan proses pembiakan di masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, Fathur menambahkan bahwa penggunaan bahan alami bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki potensi hasil yang lebih baik.
“Kami memilih Aloe vera dan madu karena kandungan nutrisinya sangat mendukung daya tahan sperma selama penyimpanan. Ini adalah riset yang menantang, tapi juga menyenangkan,” kata Fathur.
Ibu Isya, Laboran Labkesmas Banjarnegara, menyampaikan apresiasi atas keseriusan siswa MTs Negeri 1 Banjarnegara dalam menjalankan penelitian ilmiah di laboratorium.
“Tidak semua siswa seusia mereka berani dan mau terjun langsung dalam penelitian tingkat lanjut seperti ini. Mereka sudah menunjukkan keterampilan laboratorium yang baik, mulai dari menjaga sterilisasi hingga mengikuti prosedur yang benar. Saya optimis penelitian ini bisa memberikan hasil yang bermanfaat,” tutur Ibu Isya.
Selain aspek teknis, kegiatan penelitian ini juga menjadi ajang pembelajaran penting bagi siswa untuk memahami pentingnya riset berbasis konservasi. Proses yang mereka lakukan tidak hanya sekadar praktik sains, tetapi juga memiliki tujuan jangka panjang bagi ekosistem Sungai Serayu.
Penelitian krioprotektan ini diharapkan mampu menjadi langkah awal menuju pengembangan bank sperma ikan endemik yang terancam punah. Dengan adanya bank sperma ini, proses reproduksi ikan brek dapat terus dilakukan meskipun populasinya di alam semakin menurun.
Tri Widayati juga menegaskan bahwa hasil penelitian ini akan terus dipantau dan dikembangkan. Jika hasil uji coba menunjukkan keberhasilan, metode ini akan disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait, termasuk dinas perikanan, komunitas konservasi, dan masyarakat sekitar Sungai Serayu.
“Kami ingin hasil riset siswa ini tidak berhenti di meja laboratorium, tapi benar-benar memberi manfaat nyata di lapangan,” tegasnya.
Ahnaf dan Fathur mengaku senang bisa mendapatkan kesempatan belajar langsung di laboratorium profesional. Mereka berharap pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk terus berkarya di bidang penelitian sains di masa depan.
Dengan semangat, pengetahuan, dan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, langkah kecil dari dua siswa ini menjadi inspirasi bahwa pelestarian alam bisa dimulai dari ruang kelas hingga ke meja laboratorium. (Lin/La)







