Banjarnegara (Humas) – Upaya meningkatkan kemampuan riset di kalangan peserta didik terus dilakukan oleh MTs Negeri 1 Banjarnegara. Pada Rabu (27/8), tim riset madrasah yang terdiri dari dua siswa, Ilham dan Keanu, berkesempatan melakukan penelitian di Laboratorium Agro dan Laboratorium Kesehatan Lingkungan (Kesling) Politeknik Banjarnegara. Penelitian yang mereka lakukan berfokus pada pembuatan absorban dari bahan alami untuk menjernihkan air sungai.
Dalam kegiatan tersebut, Ilham dan Keanu memulai dengan tahap awal yakni proses pengarangan. Bahan yang digunakan adalah sekam padi dan sabut kelapa yang kemudian dibakar hingga menjadi arang. Arang tersebut selanjutnya diproses menjadi butiran halus sebagai bahan dasar absorban. Setelah itu, absorban yang sudah terbentuk direndam selama 24 jam di Laboratorium Kesling untuk menguji daya serap serta efektivitasnya dalam menyaring kotoran dan zat pencemar dari air sungai.
Tri Widayati, pembimbing riset MTs Negeri 1 Banjarnegara yang mendampingi langsung jalannya penelitian, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dari program penguatan literasi sains di madrasah.
“Kami ingin menanamkan pada anak-anak bahwa penelitian tidak hanya dilakukan di tingkat perguruan tinggi, tetapi bisa dimulai sejak dini. Ilham dan Keanu sedang mencoba membuat absorban sederhana dari bahan-bahan lokal yang murah dan mudah ditemukan. Harapannya, hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar, khususnya yang tinggal di daerah dengan sumber air sungai yang belum sepenuhnya bersih,” tuturnya.
Lebih lanjut, Tri menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Politeknik Banjarnegara menjadi langkah strategis dalam memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa. Dengan fasilitas laboratorium yang memadai, para siswa dapat menguji teori yang mereka pelajari di kelas ke dalam praktik nyata.
“Ini kesempatan yang sangat berharga. Anak-anak belajar bagaimana bekerja dengan metode ilmiah, menguji hipotesis, sekaligus memahami prosedur keselamatan di laboratorium. Saya melihat antusiasme mereka sangat tinggi,” tambahnya.
Sementara itu, Ilham, salah satu anggota tim riset, mengaku merasa bangga bisa melakukan penelitian di laboratorium perguruan tinggi.
“Awalnya saya kira penelitian itu sulit sekali, tapi ternyata kalau kita sabar dan mengikuti arahan guru serta pembimbing, bisa dilakukan. Saya ingin membuktikan bahwa bahan sederhana seperti sekam dan sabut kelapa bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat, terutama untuk menjernihkan air,” ucapnya dengan penuh semangat.
Senada dengan Ilham, Keanu juga menuturkan pengalamannya. Ia mengaku sangat terinspirasi dengan kegiatan riset ini karena membuatnya lebih dekat dengan dunia sains.
“Saya jadi lebih paham bagaimana proses pembuatan arang, pengolahan bahan, sampai tahap uji coba. Walaupun sederhana, penelitian ini melatih kesabaran, ketelitian, dan kerja sama tim. Saya berharap hasilnya bisa dikembangkan lebih lanjut sehingga benar-benar bisa dipakai sebagai solusi masalah air di desa-desa,” kata Keanu.
Novia Fajriati Alqomar, salah satu guru IPA di MTs Negeri 1 Banjarnegara, menilai kegiatan riset ini merupakan langkah maju bagi pengembangan budaya ilmiah di kalangan siswa. Menurutnya, melalui pengalaman langsung di laboratorium, siswa dapat menginternalisasi konsep-konsep sains yang selama ini hanya mereka pelajari di kelas.
“Anak-anak jadi lebih paham bahwa ilmu pengetahuan itu nyata, bisa diterapkan, dan bisa memberikan solusi untuk masalah sehari-hari. Saya bangga melihat Ilham dan Keanu berani mencoba hal baru. Semoga hasil penelitian mereka dapat dipresentasikan dalam ajang lomba karya ilmiah remaja atau forum akademik lainnya,” ungkap Novia.
Kegiatan riset ini juga menjadi bagian dari persiapan MTs Negeri 1 Banjarnegara dalam membekali siswa dengan kompetensi abad 21, yaitu kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, berkomunikasi, dan berkreasi. Kepala madrasah H. Yatiman, yang sebelumnya selalu mendorong siswa untuk aktif dalam penelitian, berulang kali menekankan bahwa madrasah harus menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda yang mencintai ilmu pengetahuan.
Dengan adanya penelitian ini, MTs Negeri 1 Banjarnegara berharap dapat melahirkan lebih banyak siswa yang berani meneliti, mencoba, dan menghasilkan inovasi. Absorban yang dihasilkan dari sekam dan sabut kelapa memang masih dalam tahap uji coba, namun langkah kecil ini menjadi bukti nyata bahwa siswa madrasah memiliki potensi besar dalam berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat. (Lin/La)







