Banjarnegara (Humas) – Di tengah kesibukan dan tanpa terikat waktu kerja formal, Turno selaku Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pandanarum terus konsisten menebarkan dakwah di masyarakat. Pada Sabtu (9/8) pukul 13.00 WIB, ia melaksanakan penyuluhan rutin
di Majelis Taklim Darul Ulum, Dusun Penanggungan, Desa Pasegeran, yang dihadiri oleh 25 anggota majelis taklim.
Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang selalu dinanti oleh para jamaah, karena materi yang disampaikan tidak hanya menyentuh sisi keagamaan, tetapi juga relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pada kesempatan kali ini, Turno membawakan tema “Baiti Jannati”
atau “Rumahku Surgaku”, sebuah konsep Islam yang menekankan pentingnya menjadikan rumah sebagai tempat yang penuh ketenteraman, kasih sayang, dan keberkahan.
Dalam penyampaiannya, Turno menjelaskan bahwa rumah yang diisi dengan nilai-nilai keimanan, akhlak yang mulia, dan interaksi yang harmonis, akan menjadi cerminan surga di dunia. “Rumah yang baik bukan hanya indah secara fisik, tetapi harus dihiasi dengan shalat berjamaah, saling menghormati antar anggota keluarga, serta membiasakan zikir dan tilawah Al-Qur’an,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa menciptakan rumah yang damai memerlukan peran aktif semua anggota keluarga. Orang tua menjadi teladan dalam ibadah dan akhlak, sementara anak-anak diajarkan untuk menghormati dan patuh kepada orang tua. “Ketika rumah menjadi tempat yang nyaman secara lahir dan batin, maka setiap penghuninya akan merindukan pulang, bukan mencari kebahagiaan di luar,” tambahnya.
Meski diadakan pada akhir pekan, Turno menegaskan bahwa tugas penyuluh agama tidak dibatasi oleh hari atau jam kerja. Baginya, menyampaikan ilmu agama adalah amanah yang harus dijalankan kapan pun dan di mana pun dibutuhkan. Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab seputar tips membangun keharmonisan rumah tangga, lalu ditutup dengan doa bersama. Para jamaah mengaku mendapatkan pencerahan dan motivasi untuk memperbaiki suasana rumah masing-masing agar selaras dengan ajaran Islam.
Dengan komitmen yang kuat seperti ini, Turno membuktikan bahwa dakwah bukan sekadar profesi, tetapi juga panggilan hati yang terus menggerakkan langkah, tanpa mengenal batas waktu maupun lelah. (ev)







