Uluran Tangan Spiritual: Kunci Pemulihan Trauma Penyintas Longsor Situkung oleh Kemenag Banjarnegara

Banjarnegara (Humas) – Pemulihan pascabencana tidak hanya berkutat pada kebutuhan fisik dan logistik, namun juga pada penguatan mental dan spiritual para penyintas. Inilah fokus utama dari Tim Posko Keagamaan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banjarnegara yang terus aktif memberikan pendampingan intensif bagi warga terdampak longsor di Situkung, Pandanarum.

Pada Selasa malam (25/11), kegiatan pendampingan kembali digelar di Pos Pengungsian Gedung Balai Penyuluh KB Kecamatan Pandanarum. Kegiatan ini dirancang khusus untuk mengatasi kecemasan dan trauma yang masih menghantui para pengungsi melalui doa bersama yang khusyuk dan sesi penguatan mental-spiritual yang personal.

Tim yang bertugas malam itu terdiri dari lima penyuluh agama Islam yang datang bergantian dari berbagai kecamatan, menunjukkan komitmen Kemenag Banjarnegara dalam program layanan keagamaan terjadwal. Mereka adalah M. Syaiful Abidin (KUA Pagentan), Hasan Bisri dan Sarif Nurhidayah (KUA Pagedongan), Imam Sarifudin (KUA Purwanegara), dan Samsul Chusen (KUA Sigaluh).

Inti dari kegiatan malam itu adalah doa bersama yang dipimpin oleh Hasan Bisri. Dalam doanya, Hasan Bisri tidak hanya memohon ampunan dan tempat terbaik bagi para korban meninggal, tetapi juga memanjatkan kekuatan dan kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan serta seluruh warga yang sedang menghadapi cobaan berat.

“Doa adalah benteng kita. Kami memohon agar Allah Swt., segera menurunkan pertolongan-Nya, menguatkan hati kita yang sedang diuji, dan mengganti kesedihan ini dengan ketabahan. Kita harus yakin, di balik musibah ini ada hikmah dan jalan keluar yang disiapkan-Nya,” ucap Hasan Bisri dengan suara menenangkan.

Setelah sesi doa, para penyuluh membuka ruang untuk psikososial sederhana. Metode yang digunakan sangat personal: mendengarkan dengan tulus. M. Syaiful Abidin, Penyuluh Agama Islam Pagentan, menjelaskan bahwa kehadiran fisik dan empati adalah terapi paling efektif saat ini.

“Pendampingan kami bukan melulu tentang ceramah atau nasihat agama yang berat. Kami datang sebagai ‘telinga’ yang siap mendengarkan keluh kesah, ketakutan, dan bahkan kemarahan mereka terhadap takdir. Seringkali, kalimat penenang sederhana dan kehadiran yang tulus sudah cukup untuk sedikit mengangkat beban emosional mereka,” tutur Syaiful Abidin.

Pendekatan ini sangat krusial dalam masa pemulihan, di mana kondisi psikologis penyintas sangat rentan. Program bergilir Kemenag ini memastikan bahwa pengungsi mendapatkan dukungan spiritual yang berkelanjutan, membantu mereka memproses duka dan ketakutan melalui perspektif keagamaan yang menguatkan.

Diharapkan, melalui kegiatan rutin ini, ketenangan batin dapat dipulihkan, mental para penyintas kembali dikuatkan, dan yang paling penting, optimisme untuk bangkit dan memulai kembali kehidupan dapat tumbuh subur. Upaya kolektif ini adalah wujud nyata bahwa negara hadir tidak hanya dengan bantuan materi, tetapi juga dengan kepedulian terhadap jiwa dan semangat warga Situkung dan Pandanarum. 

(msa/ azd)

Skip to content