Urusan Perut Bukan Hal Sepele, Penyuluh Agama Islam Banjarnegara Paparkan Dampak Buruk Makan Berlebih Menurut Imam Ghazali

Banjarnegara (Humas) – Di tengah tren wisata kuliner dan pola hidup konsumtif saat ini, sebuah peringatan spiritual muncul dari pelosok Banjarnegara. Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banjarnegara, Ani Musyarofah, menggelar kajian mendalam di Majelis Taklim (MT) An-Nisa Desa Ampelsari terkait manajemen nafsu, khususnya mengenai etika makan yang sering dianggap remeh oleh banyak orang pada hari Rabu siang (22/4).

Dalam paparannya, Penyuluh menegaskan bahwa urusan perut bukan sekadar masalah kesehatan fisik atau angka di atas timbangan, melainkan urusan krusial yang menentukan kualitas ruhani seseorang. Mengacu pada kitab monumental Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, ia membedah 10 dampak buruk makan berlebihan yang dapat merusak tatanan spiritual.

“Banyak dari kita mengira kenyang itu nikmat seutuhnya. Namun, Imam Al-Ghazali justru mengingatkan bahwa perut yang terlalu penuh adalah awal dari petaka hati,” ujar Penyuluh.

Penyuluh menjelaskan bahwa dampak pertama yang paling terasa adalah kerasnya hati. Cahaya makrifat dan kekhusyukan dalam doa sulit menembus jiwa yang terkungkung oleh rasa kenyang. Selain itu, makan berlebihan disebut dapat merusak kecerdasan dan membuat pikiran menjadi tumpul. Secara fisik, hal ini jelas menghalangi ibadah karena timbulnya rasa kantuk yang berat untuk melakukan salat malam atau tadarus.

Lebih jauh, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa kekenyangan adalah bahan bakar bagi bangkitnya syahwat dan potensi kemaksiatan lainnya. “Saat perut penuh, anggota tubuh yang lain menjadi lapar untuk berbuat hal yang sia-sia. Sebaliknya, saat perut lapar, anggota tubuh cenderung lebih tenang dan tunduk,” tambahnya.

Kajian ini ditutup dengan pesan agar jamaah kembali mempraktikkan gaya hidup moderat (wasathiyah) dalam mengonsumsi makanan. Bukan berarti mengharamkan yang halal, namun menjaga agar tidak melampaui batas. Harapannya, masyarakat Banjarnegara tidak hanya sehat secara jasmani, tetapi juga memiliki ketajaman batin yang terjaga dengan cara mengendalikan apa yang masuk ke dalam perut mereka.

Skip to content