Menjemput Bahagia di Lereng Pagentan: Pesan Sejuk Penyuluh Sutrisno di Majelis Taklim Istiqomah Nagasari

Banjarnegara (Humas) – Kabut tipis yang menyelimuti Desa Nagasari, Kecamatan Pagentan, tidak menyurutkan semangat ibu-ibu jamaah Majelis Taklim Istiqomah untuk menimba ilmu. Pada Rabu (22/4/2026), suasana hangat menyelimuti pertemuan rutin yang dihadiri oleh sekitar 20 peserta tersebut. Kehadiran Penyuluh Agama Islam fungsional dari KUA Pagentan, Sutrisno, menjadi magnet tersendiri dalam bimbingan penyuluhan kali ini.

Mengangkat tema yang sangat fundamental namun sering terlupakan, yakni “Bersyukur atas Nikmat Allah”, Sutrisno berhasil membawa suasana pengajian menjadi reflektif sekaligus mencerahkan. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillah, melainkan sebuah kesadaran mendalam yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Dalam sesi ceramahnya, Sutrisno menjelaskan bahwa di tengah dinamika ekonomi dan sosial saat ini, menjaga hati agar tetap bersyukur adalah sebuah perjuangan.

“Bersyukur itu bukan karena hidup kita sudah sempurna, tapi karena kita menyadari betapa banyaknya kebaikan Allah yang sering kita anggap biasa saja. Mulai dari napas yang gratis hingga kesehatan yang memungkinkan kita berkumpul di sini. Jika kita pandai bersyukur, Allah pasti akan menambah nikmat itu dari jalan yang tidak disangka-sangka,” ujar Sutrisno, di hadapan para jamaah.

Beliau juga mengingatkan bahwa lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yang seringkali menjadi akar dari ketidaktenangan batin. Melalui pendekatan yang komunikatif, Sutrisno mengajak peserta untuk melihat sisi positif dalam setiap ujian hidup.

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari pengurus Majelis Taklim Istiqomah. Badriah, selaku Ketua Majelis Taklim, menyampaikan rasa terima kasihnya atas pendampingan rutin yang dilakukan oleh pihak KUA Pagentan. Menurutnya, kehadiran penyuluh ke desa-desa memberikan siraman rohani yang sangat dibutuhkan masyarakat.

“Kami sangat bersyukur Pak Sutrisno kerso (berkenan) hadir jauh-jauh ke Nagasari. Materi tentang syukur ini sangat ‘ngena’ di hati kami. Kadang kami terlalu sibuk melihat ke atas sampai lupa melihat nikmat di depan mata. Kehadiran beliau memberikan semangat baru bagi ibu-ibu di sini untuk lebih istiqomah dalam beribadah,” ungkap Badriah dengan antusias.

Bimbingan penyuluhan ini merupakan bagian dari program kerja KUA Pagentan dalam melakukan pembinaan mental dan keagamaan di tingkat desa. KUA Pagentan berkomitmen untuk terus menghadirkan penyuluh-penyuluh yang kompeten guna memberikan literasi agama yang menyejukkan, moderat, dan solutif bagi permasalahan umat.

Acara yang berlangsung selama dua jam tersebut ditutup dengan doa bersama dan sesi tanya jawab yang interaktif. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan masyarakat Desa Nagasari tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan spiritual yang kuat melalui implementasi rasa syukur dalam kehidupan bermasyarakat. 

(3S/azd)

Skip to content