Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta

Banjarnegara – Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) Kabupaten Banjarnegara menggelar Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di Surya Yudha Park Banjarnegara, Rabu (2/9/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga 5 September 2026 tersebut diikuti 42 pendidik perwakilan KKRA tingkat kecamatan sebagai calon penggerak implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di satuan pendidikan masing-masing.

Workshop tersebut menjadi bagian dari upaya KKRA Kabupaten Banjarnegara memperkuat kompetensi pendidik Raudhatul Athfal (RA). Kegiatan dibuka Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara, Karyono, dan dihadiri Kasi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara, Muhammad Subhan, serta pengawas madrasah Musrin, Kaldah, dan Nurchasanah selaku narasumber.

Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta diarahkan agar tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi diterapkan dalam proses pembelajaran. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun karakter, kepedulian, kreativitas, serta menumbuhkan rasa cinta anak kepada Tuhan, diri sendiri, sesama, lingkungan, dan bangsa.

Ketua KKRA Kabupaten Banjarnegara, Diyah Kumalasari, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi pendidik harus berujung pada perubahan nyata dalam pembelajaran. Menurutnya, keterbatasan sarana maupun kondisi bukan alasan bagi pendidik untuk berhenti berinovasi.

“Pendidik harus terus bergerak, memberikan dampak, dan menghadirkan manfaat. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Justru keterbatasan mendorong kita untuk lebih kreatif dalam menghadirkan pembelajaran terbaik bagi anak,” tegasnya.

Sementara itu, dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Karyono. Ia menilai peningkatan kompetensi pendidik menjadi bagian penting dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan madrasah. Dukungan tersebut memperkuat langkah KKRA dalam menyiapkan pendidik yang mampu membawa praktik baik ke satuan pendidikan masing-masing.

Melalui 42 peserta dari berbagai kecamatan, hasil workshop diharapkan tidak berhenti di ruang pelatihan. Peserta diharapkan mampu mengimbaskan pengetahuan dan praktik baik kepada pendidik lain sehingga implementasi Kurikulum Berbasis Cinta berkembang menjadi gerakan bersama yang berdampak pada kualitas pembelajaran dan tumbuh kembang anak. (SP)