Tim Riset MTs Negeri 1 Banjarnegara Lakukan Eksperimen Biodegradable Hydrogel di Labkesmas Banjarnegara

Banjarnegara (Humas) – Inovasi berbasis pemanfaatan limbah kembali dilakukan oleh tim riset MTs Negeri 1 Banjarnegara. Kali ini, dua siswi berbakat, Aisyamara dan Hana, menjalankan penelitian konservasi air dengan mengembangkan Biodegradable Hydrogel.  Kegiatan riset ini berlangsung selama dua hari, Senin hingga Selasa (4–5/8/25) di Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Kabupaten Banjarnegara.

Riset yang berfokus pada hidrasi tanah dan pengolahan limbah ini menarik perhatian karena menggabungkan dua bahan lokal yang melimpah namun kerap tidak dimanfaatkan optimal, yaitu enceng gondok dan kulit kopi Banjarnegara. Penelitian ini juga menjadi bagian dari implementasi teknologi tepat guna yang difasilitasi oleh Labkesmas setempat.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari pelayanan pemanfaatan teknologi tepat guna yang kami dukung penuh. Apalagi, para siswa MTsN 1 Banjarnegara ini menunjukkan semangat luar biasa dalam menjalankan eksperimen,” ujar Hj. Tri Widayati, pembimbing tim riset Madtsansa.

Selama dua hari kegiatan, Aisyamara dan Hana melakukan proses  ekstraksi terhadap serbuk kulit kopi robusta dan memisahkan komponen penting dari enceng gondok untuk dijadikan bahan pembuatan hydrogel. Keduanya tampak teliti dan fokus dalam setiap tahapan eksperimen yang melibatkan berbagai alat laboratorium.

Dalam keterangannya, pegawai Labkesmas Banjarnegara, Rr. Anggun Paramita Djati, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat belajar tim riset dari Madtsansa.

 “Kami melihat adanya ketekunan dan kerja tim yang baik dari siswa-siswi ini. Proses ekstraksi dan formulasi hydrogel tidak mudah, namun mereka berani mencoba, bahkan memahami dasar-dasar ilmiahnya,” ujarnya.

Kegiatan riset ini tak lepas dari tantangan. Tim riset mengungkapkan bahwa menghasilkan bubuk kulit kopi dan memurnikan bahan dari enceng gondok memerlukan proses yang cukup rumit dan memakan waktu.

“Untuk mendapatkan bubuk kulit kopi dan enceng gondok ternyata tidak mudah. Kami harus benar-benar sabar dan telaten dalam proses pengeringan, penumbukan, hingga ekstraksi zat aktif,” ungkap Hana, salah satu anggota tim riset.

Senada dengan Hana, Aisyamara menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman berharga.

“Kami jadi tahu bahwa penelitian tidak hanya tentang teori, tetapi butuh ketelitian, kesabaran, dan kerja sama yang baik. Kami sangat bersyukur bisa belajar langsung di laboratorium seperti ini,” ujarnya.

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Kepala Balai Labkesmas Banjarnegara, Muh Faozan, yang sebelumnya juga telah menerbitkan surat tugas untuk pendampingan penelitian oleh tim tenaga ahli dari Labkesmas.

Proyek riset ini diharapkan tidak hanya berhenti pada tahap eksperimen laboratorium, namun dapat terus dikembangkan hingga menghasilkan produk hydrogel ramah lingkungan yang siap diaplikasikan di lahan pertanian kering atau area konservasi tanah.

Dengan semangat riset yang tinggi dan pendampingan yang berkualitas, MTs Negeri 1 Banjarnegara terus menunjukkan kiprah luar biasa dalam bidang penelitian ilmiah, membuktikan bahwa pelajar tingkat madrasah pun mampu berkontribusi dalam pemecahan masalah lingkungan secara nyata. (Lin/La)

Skip to content