Banjarnegara – Suasana kelas 5 MI Al Fatah pagi ini penuh warna dan keceriaan. Guru kelas Nani, menghadirkan pembelajaran inovatif dengan materi komposisi dan dekomposisi bilangan melalui media origami. Metode kreatif ini membuat konsep angka yang sering terasa abstrak menjadi konkret dan mudah dipahami siswa.(18/9)
Nani memulai pelajaran dengan menjelaskan konsep dasar. Komposisi bilangan adalah menyusun satu bilangan dari beberapa bilangan lain, sedangkan dekomposisi bilangan adalah memecah satu bilangan menjadi beberapa bilangan penyusunnya. Misalnya, bilangan 125 dapat didekomposisi menjadi 100 + 20 + 5, atau dikomposisi kembali dari gabungan bilangan puluhan dan satuan.
Untuk memudahkan pemahaman, setiap siswa mendapat kertas origami beraneka warna. Setiap warna mewakili nilai tempat tertentu: Merah untuk ratus ribuan, orange untuk puluh ribuan, Kuning untuk ribuan, hijau, ratusan, biru untuk puluhan dan pink untuk satuan.
Dengan cara melipat dan menyusun kertas origami sesuai warna dan jumlah, siswa dapat melihat secara nyata bagaimana sebuah bilangan dapat dipecah atau disusun kembali.
“Seru sekali! Saya jadi bisa menghitung 654321 dengan cara memecahnya pakai kertas warna-warni,” ungkap Qofisa, siswi kelas 5D.
“Belajar angka pakai origami membuat saya cepat mengerti karena bisa langsung dilihat dan dipegang,” tambah Agasya.
Kegiatan berlangsung interaktif. Nani membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok mendapat tantangan: menguraikan berbagai bilangan menjadi komposisi yang berbeda-beda menggunakan potongan origami, kemudian menyusunnya kembali.
Bu Nani menuturkan, “Origami membuat anak-anak memvisualisasikan nilai tempat. Mereka tidak hanya menghafal angka, tetapi benar-benar memahami bagaimana bilangan terbentuk dari puluh ribuan, puluh ratusan, ribuan, ratusan, puluhan, dan satuan. Ini sangat membantu saat mereka belajar penjumlahan dan pengurangan besar.”
Wakil kepala madrasah, Nurlaeli Khikmawati, turut mengamati jalannya pembelajaran dan memberikan pujian. “Pendekatan ini luar biasa. Anak-anak terlihat antusias dan aktif. Dengan metode kreatif seperti ini, pelajaran matematika yang biasanya dianggap sulit menjadi menyenangkan dan bermakna,” ujarnya.
Kegiatan ini membuktikan bahwa pembelajaran matematika tidak harus monoton. Melalui media sederhana seperti origami, siswa MIFABARA tidak hanya memahami konsep komposisi dan dekomposisi bilangan secara mendalam, tetapi juga belajar bekerja sama, berpikir kreatif, dan menikmati proses belajar yang menyenangkan.(nas)







