Banjarnegara – Udara cerah pagi itu seakan ikut menambah semangat belajar siswa kelas 3A. Mereka tampak sibuk memotong kertas warna, mengukur bilah bambu, dan menempelkan lem sambil sesekali tertawa ceria. Kegiatan kali ini bukan sekadar bermain, melainkan bagian dari pembelajaran terintegrasi yang menggabungkan tiga mata pelajaran: SBdP, Matematika, dan PJOK dengan tema “Membuat Layang-Layang Tradisional.”. (17/10)
Dalam mata pelajaran SBdP, siswa diajak berkreasi membuat layang-layang. Mereka mendesain bentuk dan pola hiasan sesuai imajinasi masing-masing. Guru memberi arahan bagaimana memilih warna yang serasi dan menata motif agar hasilnya menarik. “Anak-anak belajar mengekspresikan diri dan mengembangkan keindahan visual melalui karya tradisional yang masih relevan hingga kini,” ujar Arif.
Kegiatan tersebut diintegrasikan dengan Matematika materi bangun datar layang-layang. Anak-anak mengamati bentuk dasar layang-layang yang ternyata memiliki dua pasang sisi sama panjang dan dua diagonal yang berpotongan tegak lurus. Mereka juga belajar mengukur panjang bilah bambu serta memperkirakan luas permukaan layang-layang. konsep geometri tidak hanya ada di buku, melainkan juga hadir dalam benda-benda di sekitar kita.
Selanjutnya, unsur PJOK turut diintegrasikan melalui konsep keseimbangan. Agar layang-layang dapat terbang sempurna, kedua sisi bilah bambu harus sama panjang dan sama berat. Guru memperkenalkan cara sederhana untuk menguji keseimbangan, yakni dengan menempatkan bilah bambu di atas jari telunjuk. Jika bambu tidak condong ke kanan atau kiri, berarti sudah seimbang. “Metode keseimbangan jari ini melatih ketelitian, koordinasi, dan kemampuan motorik halus anak-anak,” terang guru PJOK.
Kepala Madrasah, Durotun Nafisah memberikan apresiasi tinggi terhadap pembelajaran ini. “Pembelajaran terintegrasi seperti ini menjadikan proses belajar lebih bermakna. Anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengalami langsung hubungan antarilmu dalam kehidupan nyata,” ujarnya.
Di akhir kegiatan, siswa dengan gembira menunjukkan layang-layang buatan mereka. Ada yang berbentuk klasik, ada pula yang dihias dengan motif modern. “Senang sekali bisa belajar sambil membuat dan nanti bisa diterbangkan,” tutur salah satu siswa sambil tersenyum lebar.
Melalui kegiatan ini, madrasah berharap semangat belajar kontekstual dan berbasis pengalaman nyata terus tumbuh, menjadikan anak-anak tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga kreatif, terampil, dan penuh semangat menjaga warisan budaya Indonesia.(nas)







