Banjarnegara (Humas) – Siswa kelas 9A MTs Negeri 1 Banjarnegara tampak antusias mengikuti kegiatan praktikum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sederhana bertema listrik statis pada Kamis (30/10). Kegiatan yang dipandu langsung oleh guru IPA, Dewi Fairuz Zulaikha, ini dilaksanakan secara berkelompok, masing-masing kelompok terdiri atas empat orang siswa. Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami konsep dasar gaya tarik-menarik dan tolak-menolak akibat perbedaan muatan listrik melalui percobaan yang menyenangkan dan mudah dilakukan.
Dalam kegiatan tersebut, siswa melakukan dua jenis percobaan, yaitu “Balon Penarik Kertas” dan “Sedotan Ajaib Penolak dan Penarik”. Pada percobaan pertama, siswa menggosok balon pada rambut kering, kemudian mendekatkannya ke potongan kertas kecil untuk mengamati gaya tarik listrik yang muncul. Sementara pada percobaan kedua, siswa menggunakan sedotan yang digosok dengan tisu kering, lalu mengamatinya saat dua sedotan yang telah digosok didekatkan satu sama lain untuk melihat gejala tolak-menolak dan tarik-menarik akibat perbedaan muatan listrik.
Guru IPA, Dewi Fairuz Zulaikha, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang agar siswa dapat belajar melalui pengalaman langsung.
“Melalui percobaan sederhana seperti ini, siswa tidak hanya memahami teori tentang listrik statis dari buku, tetapi juga melihat dan mengalami sendiri bagaimana muatan listrik bisa menimbulkan gaya tarik atau tolak. Ini bagian dari pembelajaran kontekstual agar ilmu yang mereka pelajari terasa nyata,” jelas Dewi.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan praktikum ini merupakan bagian dari upaya untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat eksplorasi siswa terhadap fenomena alam di sekitar.
“Prinsipnya, IPA bukan hanya hafalan rumus, tetapi bagaimana siswa bisa mengamati, menganalisis, dan menyimpulkan peristiwa yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Dengan cara seperti ini, mereka lebih mudah memahami konsep ilmiah,” imbuhnya.
Sementara itu, Hj. Yuniyati, wakil kepala urusan kurikulum MTs Negeri 1 Banjarnegara, menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan kegiatan pembelajaran aktif tersebut. Ia menilai bahwa praktikum sederhana seperti ini sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi.
“Kami sangat mendukung kegiatan semacam ini. Pembelajaran berbasis praktik membuat siswa lebih aktif dan kreatif. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan guru, tetapi juga berinteraksi langsung dengan objek pembelajaran,” ujarnya.
Hj. Yuniyati juga menambahkan bahwa kegiatan praktikum menjadi salah satu strategi pembelajaran yang sejalan dengan Kurikulum Merdeka, di mana siswa didorong untuk memiliki pengalaman belajar yang bermakna.
“Dengan melakukan sendiri, siswa bisa berpikir kritis dan memecahkan masalah. Ini penting untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga terampil dan berkarakter,” lanjutnya.
Salah satu siswa kelas 9A, Wildan, mengaku senang mengikuti kegiatan ini. Menurutnya, belajar dengan cara praktik membuat pelajaran IPA terasa lebih menarik.
“Ternyata listrik statis itu bisa kita lihat langsung. Awalnya saya kira cuma teori di buku, tapi setelah coba gosok balon dan lihat kertas bisa tertarik, saya jadi paham bagaimana muatan listrik bekerja,” ujarnya penuh semangat.
Hal senada disampaikan oleh Shaumi, siswa lain dari kelas yang sama. Ia mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga melatih kerja sama antaranggota kelompok.
“Kami dibagi jadi kelompok berempat, jadi harus kompak. Ada yang pegang balon, ada yang siapkan kertas, ada yang mencatat hasil pengamatan. Seru sekali, dan kami bisa saling bantu,” tuturnya.
Melalui kegiatan sederhana namun bermakna ini, siswa 9A MTs Negeri 1 Banjarnegara belajar bahwa gesekan dapat menimbulkan muatan listrik, yang menyebabkan benda-benda bisa saling tarik-menarik atau tolak-menolak. Kegiatan praktikum ini tidak hanya menguatkan pemahaman konsep, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu, kerja sama, dan keterampilan ilmiah siswa.
“Semoga ke depan kegiatan seperti ini terus dilakukan, tidak hanya di kelas 9A, tetapi juga di seluruh kelas, agar siswa kita semakin mencintai sains,” pungkas Dewi Fairuz Zulaikha menutup kegiatan hari itu dengan senyum puas. (Lin/La)







