Banjarnegara (Humas) – Pada Jumat (31/10), etika komunikasi dan ketulusan niat menjadi sorotan utama dalam kegiatan bimbingan penyuluhan keagamaan yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim (MT) Nasyiatul Aisyiyah Ranting Metawana. Bertempat di Serambi Masjid Baiturrahman Metawana, 21 anggota majelis taklim tersebut menyimak paparan mendalam dari Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan, M. Syaiful Abidin, yang secara lugas mengangkat isu “Hati-Hati Jika Berbasa-Basi”.
Penyuluhan ini bukan sekadar membahas tata krama, melainkan menggali dimensi spiritual dan dampak sosial dari kebiasaan yang sering dianggap remeh: basa-basi tanpa substansi. Syaiful Abidin menegaskan bahwa dalam pandangan Islam, setiap interaksi dan tawaran kebaikan harus didasari oleh niat yang jujur dan kesediaan untuk menepati.
“Menawarkan sesuatu, baik itu bantuan, makanan, atau sekadar ajakan, seharusnya lahir dari keinginan tulus untuk berbagi, bukan sekadar formalitas agar terlihat sopan,” ujar Syaiful Abidin. “Indikator niat tulus kita bisa dilihat dari respons hati saat tawaran itu diterima. Jika kita merasa kecewa saat tawaran diterima, itu menjadi tanda jelas bahwa yang kita sampaikan hanyalah basa-basi kosong.”
Ia menambahkan bahwa kebiasaan basa-basi yang tidak didukung niat sungguh-sungguh berpotensi menjadi racun dalam hubungan sosial. Hal ini dapat menimbulkan kekecewaan, merusak kepercayaan, dan bahkan menciptakan prasangka buruk di antara sesama Muslim yang seharusnya menjaga silaturahmi. Dalam konteks akidah dan akhlak, seorang Muslim didorong untuk selalu sidq (jujur) dan menepati janji, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun. Niat yang tulus, sebaliknya, akan mendatangkan kegembiraan dan pahala, mengubah interaksi sehari-hari menjadi ibadah.
Ketua MT Nasyiatul Aisyiyah Ranting Metawana, Rismawati, menyampaikan apresiasi tinggi atas tema yang diangkat. Menurutnya, materi ini adalah cerminan yang diperlukan bagi anggota untuk merefleksikan kualitas interaksi mereka sehari-hari.
“Kami sering terjebak dalam basa-basi sosial tanpa menyadari dampak spiritualnya. Materi ini membuka mata kami bahwa ketulusan niat adalah fondasi penting dalam berinteraksi, dan praktik basa-basi yang tidak tulus bisa mengurangi nilai ibadah dari perbuatan baik kita,” kata Rismawati. “Kami berkomitmen untuk mengaplikasikan ilmu ini, menjadikan ketulusan sebagai landasan utama dalam setiap silaturahmi dan pergaulan di majelis taklim dan masyarakat.”
Sesi penyuluhan berjalan dinamis, ditandai dengan antusiasme peserta yang berbagi pengalaman dan mengajukan pertanyaan terkait dilema basa-basi dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan kegiatan rutin ini terus menjadi wadah efektif bagi MT Nasyiatul Aisyiyah Ranting Metawana dalam meningkatkan pemahaman keagamaan serta memperkuat kualitas akhlak dan integritas sosial anggotanya.
(msa/ azd)







