Audisi Duta SSK MTs Negeri 1 Banjarnegara 2025 Sukses Digelar

Banjarnegara (Humas) – Suasana ruang kelas 7A di MTs Negeri 1 Banjarnegara (Madtsansa) pagi ini dipenuhi dengan antusiasme dan harapan. Sebanyak 20 pasang perwakilan putra-putri dari tiap kelas 7 dan 8 mengikuti audisi pemilihan Duta SSK (Sekolah Siaga Kependudukan) tahun 2025. Kegiatan diawali usai pembelajaran reguler pada Sabtu siang yang berlangsung dengan tertib dan semarak. (8/11)

Acara dibuka secara resmi oleh ketua tim SSK Madtsansa, Hj Asih Wijayanti, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa peran duta SSK bukan sekadar simbol, melainkan agen perubahan yang akan menggerakkan pemahaman kependudukan di kalangan siswa.

“Kami berharap dari tahapan audisi ini muncul generasi yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu merealisasikan program konkret terkait kependudukan, lingkungan, dan kesehatan reproduksi di sekolah ini,” ujar Hj Asih.

Seluruh peserta yang hadir diberi kesempatan memaparkan program-program unggulan yang akan dijalankan bila mereka terpilih sebagai duta SSK. Setiap pasang — putra dan putri — tampil bergantian di depan panel juri, mempresentasikan rencana aksi mereka secara singkat namun padat. Pada sesi pertama, aspek program dinilai secara menyeluruh oleh guru BK Madtsansa, Ardian Apriliana, yang menitikberatkan pada relevansi, keberlanjutan, dan implementabilitas program. Sementara itu, aspek public speaking dinilai oleh juri kedua, Agustina Dewi Merdekawati, yang mengevaluasi kemampuan peserta dalam menyampaikan gagasan secara efektif, bahasa tubuh, dan kepercayaan diri.

Dalam pengamatannya, Ardian Apriliana mengungkapkan kekaguman terhadap kreativitas sebagian besar peserta.

“Saya melihat banyak ide segar yang muncul — misalnya kampanye siswa-siswa untuk peduli data kependudukan keluarga, atau peer-education tentang kesehatan reproduksi remaja. Tinggal bagaimana program tersebut dikemas agar bisa dilaksanakan dengan baik,” kata Ardian.

Sedangkan Agustina menambahkan,

“Public speaking siswa-siswi kini jauh berkembang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ada yang berbicara lantang, jelas, dan komunikatif — saya yakin pengalaman audisi ini akan memberi manfaat besar, terlepas dari siapa yang terpilih nanti.”

Dari antara para peserta, muncul dua nama yang secara spesial menarik perhatian dewan juri. Pertama, Denessia, wakil dari kelas 8 C unggulan Tahfiz, yang mempresentasikan program “Literasi Kependudukan & Tahfiz” — menggabungkan pembacaan Al-Qur’an rutin dengan modul diskusi tentang kependudukan dan tanggung-jawab generasi. Denessia pun menyatakan,

“Saya ingin memastikan bahwa teman-teman kami tidak hanya faham angka-angka dan statistik kependudukan, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan moral dalam menjalankan perannya. Dengan program ini saya berharap kami bisa menjadi contoh bagi adik-adik kelas.”

Kedua, Hasbi, wakil dari kelas 7 A unggulan Riset, memilih tema “Riset Anak Muda: Data & Kependudukan”. Hasbi memaparkan rencana untuk membentuk klub riset mini yang akan melakukan survei kecil-kecilan tentang keluarga, lingkungan, dan migrasi internal di sekolah, kemudian menyusun hasil dan menyajikannya dalam seminar kecil.

“Melalui riset sederhana kami ingin membuktikan bahwa data bukan hanya angka — melainkan cerita warga sekolah kita sendiri,” tutur Hasbi penuh semangat.

Ketua tim SSK, Hj Asih, menyoroti dua program unggulan tersebut sebagai contoh bagaimana peserta dapat mengintegrasikan pendekatan keilmuan maupun nilai spiritual ke dalam kampanye kependudukan.

“Para peserta i telah menunjukkan bahwa mereka sudah memikirkan bagaimana program bukan hanya formalitas, tapi nyata dan bisa bergerak. Tim juri tentu akan menilai seluruh peserta secara adil berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan,” ujar Hj Asih.

Rangkaian audisi berlangsung hingga siang hari dengan suasana penuh energi — tepuk tangan spontan dari peserta lain, senyum antusias para peserta setelah menyampaikan presentasi, dan dukungan dari guru-pembimbing di sekitar. Meskipun kompetitif, suasana tetap kekeluargaan dan mendukung, sesuai semangat sekolah siaga kependudukan.

Selanjutnya, panitia akan mengadakan deliberasi dan pengumuman hasil audisi pada hari Senin depan. Sepasang yang terbaik akan diangkat sebagai Duta SSK MTs Negeri 1 Banjarnegara untuk periode satu tahun ke depan. Tugas mereka antara lain menjadi pelopor kampanye kependudukan, membimbing teman-teman sebaya, serta menyelenggarakan kegiatan-kegiatan terkait data keluarga, kesehatan remaja, dan lingkungan sekolah.

Hj Asih menutup dengan pesan motivasi untuk seluruh peserta:

“Siapa pun yang terpilih, saya yakin kalian semua sudah menang dalam satu hal — keberanian untuk tampil, menyampaikan gagasan, dan berkomitmen pada perubahan. Teruslah bergerak, karena menjadi agen perubahan tidak berhenti setelah audisi.”

Dengan berlangsungnya audisi ini, MTs Negeri 1 Banjarnegara semakin memperkuat komitmennya menjadi sekolah yang sadar dan responsif terhadap isu kependudukan — melalui generasi muda yang kreatif, vokal, dan bertanggung-jawab. (Fy/La)

Skip to content