Banjarnegara (Humas) – Peserta Rapat Koordinasi IPARI Kabupaten Banjarnegara diajak merenungi dua nikmat besar yang sering luput dari perhatian: nikmat sehat dan waktu luang, ketika kegiatan dimulai dengan kultum yang disampaikan oleh H. Agus Salam di Aula Desa Giritirta, Rabu (19/11/2025).
Kultum menjadi pembuka yang memberi warna spiritual setelah seluruh peserta menyanyikan Indonesia Raya dan Mars IPARI.
Dalam penyampaiannya, H. Agus Salam menegaskan bahwa kedua nikmat itu sering disia-siakan.
“Banyak orang merasa sehat, tetapi tidak menggunakannya untuk berbuat baik. Banyak pula yang memiliki waktu, tetapi membiarkannya berlalu tanpa makna. Syukur itu harus diwujudkan, bukan sekadar diucapkan,” ujarnya.
Ia kemudian mengaitkan pesan syukur tersebut dengan konsep ekoteologi, mengingatkan bahwa alam adalah amanah yang harus dijaga oleh manusia.
“Kerusakan alam bukan hanya urusan lingkungan, tetapi urusan iman. Menjaga bumi adalah bagian dari syukur kepada Allah. Penyuluh harus menjadi pelopor dalam mengajak masyarakat mencintai dan merawat lingkungan,” jelasnya.
H. Agus juga menyinggung kondisi Banjarnegara yang kerap dilanda bencana seperti longsor dan tanah gerak.
“Kita hidup di daerah rawan. Maka edukasi lingkungan bukan pilihan, tetapi kewajiban,” tegasnya.
Kultum ini disambut antusias oleh penyuluh agama Islam, Buddha, Kristen, dan Katolik. Peserta merasakan relevansi pesan tersebut dengan tugas kepenyuluhan dan kondisi alam Banjarnegara.
Usai kultum, rakor dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin Ketua IPARI, pembinaan dari Kasi Bimas Islam, sambutan pejabat terkait, serta musyawarah penyusunan program IPARI Banjarnegara.
Kegiatan diharapkan semakin menguatkan peran penyuluh sebagai agen perubahan dan penjaga harmoni antara manusia, agama, dan alam.
(dr/ azd)







