Antologi Puisi Secercah Kisah Ibu Nasiah, Wujud Cinta GTK Madtsansa untuk Sahabat

Banjarnegara (Humas) – MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali meneguhkan diri sebagai madrasah literat melalui peluncuran buku antologi puisi bertajuk Secercah Kisah Ibu Nasiah. Buku tersebut merupakan persembahan spesial dari para Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madtsansa untuk Hj. Nasiah Ningrum, guru Bimbingan dan Konseling yang akan memasuki masa purnabakti per 1 Desember 2025.

Disusun dengan penuh cinta dan kenangan, antologi ini memuat puluhan puisi dari guru lintas mata pelajaran yang menggambarkan sosok Bu Nasiah sebagai pendidik, sahabat, sekaligus pribadi yang hangat dan tegas. Penyusunan buku digawangi oleh Linara, guru matematika sekaligus pembimbing sastra kelas VII yang selama ini dikenal memiliki kepedulian besar terhadap dunia puisi dan literasi di lingkungan madrasah.

Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, menyampaikan bahwa karya ini merupakan bukti nyata bahwa budaya literasi telah tumbuh subur di Madtsansa.

“Madrasah ini bukan hanya tempat belajar, tetapi rumah bagi kreativitas. Buku antologi puisi untuk Bu Nasiah menjadi bukti bahwa keluarga besar Madtsansa mampu mengekspresikan rasa, kenangan, dan penghormatan melalui karya sastra. Ini adalah tradisi baik yang akan terus kami hidupkan,” ujar Yatiman.

Ia juga menegaskan bahwa pelepasan purnabakti bukan sekadar acara formal, melainkan momentum untuk mengenang jejak pengabdian dan menyalurkan apresiasi secara lebih bermakna.

Sebagai koordinator penyusunan, Linara mengakui bahwa proses kreatif ini membawa haru tersendiri. Ia tidak menyangka antologi ini akan mendapatkan respons yang sangat antusias dari rekan-rekan guru.

“Setiap orang menulis dari hati. Mereka menuangkan kenangan, rasa hormat, dan doa untuk Bu Nasiah. Saya hanya mengumpulkan dan merapikan, tetapi isi buku ini adalah cinta dari seluruh GTK Madtsansa,” ungkap Linara.

Ia juga menambahkan bahwa kehadiran antologi ini sekaligus memperkuat identitas Madtsansa sebagai madrasah yang terus menghidupkan karya literasi.

“Kita ingin menunjukkan bahwa literasi bukan kegiatan seremonial, tetapi budaya yang mengakar,” tuturnya.

Hj. Nasiah Ningrum: ‘Saya Terharu, Ini Lebih dari Apa pun yang Saya Bayangkan’

Menerima persembahan itu, Hj. Nasiah Ningrum tidak dapat menyembunyikan rasa harunya. Baginya, buku tersebut bukan sekadar kenang-kenangan, tetapi rekaman perjalanan batin bersama keluarga besar Madtsansa selama puluhan tahun.

“Saya benar-benar terharu. Tidak pernah terlintas dalam pikiran bahwa teman-teman akan menghadiahi saya buku setebal dan seindah ini. Setiap puisi membuat saya merasa dihargai, dicintai, dan ditemani. Ini adalah hadiah paling berkesan sebelum saya memasuki masa purnabakti,” ujar beliau dengan suara yang bergetar.

Bu Nasiah menambahkan bahwa dirinya selalu berusaha menjalankan tugas sebagai guru BK dengan sepenuh hati mendengar tanpa menghakimi, membimbing tanpa pamrih, dan menegur dengan kasih.

Salah satu guru BK Madtsansa, Ardian Apriliana, menyebut bahwa Bu Nasiah adalah sosok yang menjadi panutan tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi para guru.

“Beliau adalah teladan dalam kedewasaan bersikap. Cara beliau menangani siswa dengan kelembutan, namun tetap tegas, menjadi pelajaran besar bagi kami. Sangat pantas jika beliau mendapatkan apresiasi sebesar ini,” ungkap Ardian.

Ia berharap buku antologi puisi tersebut menjadi pengingat bahwa sosok Bu Nasiah telah membentuk karakter banyak pihak di madrasah.

Antologi Secercah Kisah Ibu Nasiah tidak hanya menjadi media apresiasi, tetapi juga simbol persahabatan dan kebersamaan yang terjalin erat di lingkungan MTs Negeri 1 Banjarnegara. Buku ini akan menjadi jejak abadi tentang betapa besar pengaruh Bu Nasiah terhadap madrasah, rekan kerja, dan para siswa.

Peluncuran buku tersebut sekaligus menjadi penegas bahwa budaya literasi di Madtsansa terus bergerak, tumbuh, dan memberi makna. Sebagaimana pesan yang terukir dalam salah satu puisi di dalamnya,

“Jejakmu tak akan pudar, karena kau menanam bintang di setiap jiwa yang kau sentuh.”

Dengan penuh rasa syukur dan bangga, keluarga besar Madtsansa melepas Bu Nasiah menuju babak baru yang lebih tenang—dengan doa, cinta, dan jejak kata yang akan abadi selamanya. (Fy/La)

Skip to content