Dari Tartil ke Intisari: Penyuluh Agama Islam Gali Hikmah Surat Al-Lail Bersama Warga Binaan Wanita

Banjarnegara (Humas) – Suasana khidmat menyelimuti ruang pembinaan Rumah Tahanan (Rutan) khusus wanita pada hari Kamis (04/12) saat Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banjarnegara, Ani Musyarofah, memulai sesi penyuluhan Al-Qur’an. Berbeda dari kegiatan rutin, kali ini fokus utama adalah Surat Al-Lail (Malam), sebuah surat pendek namun kaya akan pelajaran tentang keimanan dan konsekuensi amal perbuatan.

Warga binaan wanita tampak antusias mengikuti arahan. “Tartil bukan hanya indah didengar, tapi juga tentang menunaikan hak setiap huruf. Kita mulai dengan membenarkan panjang pendek dan makhrajnya,” ujar penyuluh yang kemudian memimpin praktik membaca ayat demi ayat Surat Al-Lail.

Salah satu peserta, sebut saja Ati (35), mengaku merasa tenang saat fokus pada bacaan. “Dulu bacaan saya terburu-buru. Sekarang diajari pelan, rasanya ayat-ayat itu lebih meresap di hati. Seperti mendapat ketenangan baru di sini,” ungkapnya.

Setelah sesi tartil, penyuluhan berlanjut pada penjelasan kandungan Surat Al-Lail. Penyuluh membedah janji Allah SWT bagi mereka yang dermawan dan bertakwa, serta peringatan bagi mereka yang kikir dan mendustakan kebenaran.

Surat Al-Lail menekankan kontras antara dua jenis manusia, disimbolkan oleh malam yang menutup dan siang yang terang benderang: orang yang memberikan hartanya dan bertakwa, serta orang yang bakhil dan sombong.

“Intisari surat ini sangat relevan untuk kita semua. Surat Al-Lail mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang apa yang kita miliki, melainkan apa yang kita berikan, dan betapa pentingnya selalu mengingat hari akhir. Inilah bekal terbaik bagi setiap warga binaan untuk memulai lembaran baru setelah kembali ke masyarakat,” jelasnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif, memperlihatkan semangat warga binaan untuk memperbaiki diri dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Skip to content