Banjarnegara (Humas) – Majelis Taklim An Nisa Desa Ampelsari tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan sekadar pengajian rutin, jamaah disuguhi sesi penyuluhan yang mendalam dari Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banjarnegara, Ani Musyarofah dengan fokus utama pada Surat Al-Ma’un pada hari Rabu (03/12). Dengan judul inspiratif, “Bukan Sekadar Bacaan,” penyuluhan ini bertujuan untuk mentransformasi pemahaman jamaah, dari sekadar melafalkan menjadi mengamalkan isi surat tersebut.
Sesi dimulai dengan pelatihan tartil (cara membaca Al-Qur’an dengan benar). Penyuluh menekankan bahwa pembacaan yang benar adalah kunci untuk memahami pesan Allah secara utuh. Ia memandu jamaah mengoreksi panjang pendek (mad) serta penekanan pada huruf-huruf dalam Surat Al-Ma’un, khususnya pada ayat yang menyebut celakalah bagi orang-orang yang salat.
“Kesalahan sedikit dalam tartil bisa mengubah makna. Tapi, bahkan dengan tartil yang sempurna pun, jika kita tidak mengamalkan isinya, kita masuk dalam golongan yang disebut pendusta agama,” tegasnya.
Puncak penyuluhan adalah pembedahan kandungan Surat Al-Ma’un. Penyuluh menjelaskan bahwa surat ini adalah teguran keras dari Allah SWT kepada mereka yang melaksanakan ibadah ritual seperti salat, namun mengabaikan ibadah sosial.
“Siapa pendusta agama itu? Bukan hanya orang yang tidak percaya hari akhir. Surat Al-Ma’un menyebutkan ciri-cirinya: orang yang menghardik anak yatim, tidak menganjurkan memberi makan fakir miskin, dan orang yang lalai dalam salatnya,” jelasnya.
Penyuluh menutup penyuluhan dengan ajakan praktis, “Mari kita jadikan Surat Al-Ma’un sebagai barometer keimanan kita. Setelah salat, lihatlah sekeliling, carilah kesempatan untuk berbuat kebaikan. Jadikan Majelis Taklim An Nisa sebagai pelopor empati dan aksi nyata di lingkungan ini,” tambahnya.







