Banjarnegara – Suasana penuh antusias dan kehangatan mewarnai kegiatan In House Training (IHT) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) MTs Negeri 1 Banjarnegara yang dilaksanakan pada Kamis (11/12) di Joglo RM Sari Rahayu. Kegiatan yang digelar sehari penuh ini menghadirkan narasumber ahli, H. Junaidi, Widyaiswara Ahli Utama dari Balai Diklat Keagamaan Semarang.
Seluruh guru Madtsansa hadir mengikuti kegiatan dengan penuh semangat. Materi yang dibawakan narasumber mulai dari filosofi Panca Cinta hingga teknis penerapan KBC dalam pembelajaran menjadi pengalaman baru yang sangat berkesan bagi para guru.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, dalam sambutannya menegaskan bahwa implementasi KBC adalah kebutuhan penting bagi madrasah masa kini.
“Kurikulum Berbasis Cinta bukan hanya konsep, tetapi landasan karakter. Guru Madtsansa harus menjadi pelopor pembelajaran yang bukan sekadar mengajar ilmu, tapi juga menumbuhkan kasih sayang, empati, dan akhlak mulia. IHT hari ini sangat berarti untuk memperkuat komitmen itu,” ujarnya.
Beliau juga mengapresiasi seluruh guru yang hadir dengan kesiapan maksimal dan semangat belajar yang tinggi.
Ketua panitia IHT, Hj. Yuniyati, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai penyampaian materi, tetapi juga sebagai ruang belajar yang menyenangkan dan membangun kebersamaan.
“Seluruh sesi kita siapkan agar guru dapat memahami KBC secara utuh. Alhamdulillah, antusiasme para guru luar biasa. Semoga ilmu hari ini benar-benar terimplementasi dalam pembelajaran dan budaya madrasah,” jelasnya.
Sebagai narasumber, H. Junaidi menyampaikan materi secara lugas, interaktif, dan inspiratif. Beliau menekankan bahwa KBC merupakan kurikulum yang menekankan pembelajaran bermakna yang menghubungkan ilmu, akhlak, pengalaman, dan empati.
“Kurikulum Berbasis Cinta mengajak guru membangun pembelajaran yang memanusiakan, menyentuh hati, dan membentuk karakter. Anak tidak hanya tahu, tetapi mampu merasakan dan menghidupkan nilai-nilai cinta,” jelasnya.
Dengan berbagai contoh praktik, simulasi singkat, dan diskusi, suasana materi sangat hidup. Para guru tampak aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba memahami model penerapan KBC dalam berbagai mata pelajaran.
Dua guru peserta, Rahma Ayu Arina Putri (guru SKI) dan Rizki Arbangi Nopi (guru Bahasa Indonesia), turut membagikan kesan mereka mengikuti IHT.
Rahma Ayu mengaku materi yang disampaikan sangat membuka wawasan.
“Saya merasa mendapatkan sudut pandang baru tentang bagaimana SKI bisa dikaitkan dengan nilai cinta, terutama cinta Allah, Rasul, dan sesama. Penyampaian narasumber sangat menyentuh dan mudah dipahami,” tuturnya.
Sementara itu, Rizki Arbangi menilai bahwa KBC sangat relevan diterapkan dalam pembelajaran bahasa, terutama untuk membangun empati dan kecintaan terhadap budaya Indonesia.
“Banyak sekali strategi praktis yang bisa langsung saya terapkan. KBC membuat pembelajaran lebih humanis dan dekat dengan kehidupan siswa,” ungkapnya.
Kegiatan berlangsung lancar dan hangat. Selain materi utama, sesi tanya jawab, diskusi kelompok, dan refleksi bersama menjadi bagian paling seru dalam IHT kali ini. Guru saling berdiskusi tentang bagaimana mengubah pembelajaran agar tidak hanya fokus pada kognitif, tetapi juga menanamkan nilai cinta dalam setiap proses.
IHT ditutup dengan foto bersama serta harapan besar agar implementasi Kurikulum Berbasis Cinta benar-benar mengakar kuat di MTs Negeri 1 Banjarnegara. (Lin)







