Banjarnegara — (22/12/2025) Sebuah video yang merekam momen unik di MTs Negeri 1 Banjarnegara menjadi viral dan trending di platform TikTok (vt.tiktok.com/ZSPsdQavP/). Dalam video berdurasi kurang lebih satu menit itu terlihat sejumlah ayah memenuhi ruang kelas dan lorong sekolah untuk mengambil raport putra-putrinya yang sedang menempuh kelas 9. Konten tersebut berhasil masuk ke For You Page (FYP) dan hingga berita ini diturunkan telah ditonton lebih dari 939 ribu penonton, 37 ribu tanda suka, dan 1.185 komentar dari pengguna TikTok di seluruh Indonesia.
Fenomena ini bukan sekadar momen biasa, melainkan bagian dari gerakan nasional yang dikenal sebagai Gerakan Ayah Mengambil Rapor sebuah inisiatif yang bertujuan meningkatkan peran ayah dalam proses pendidikan anak, dan kian mendapat perhatian publik dalam beberapa pekan terakhir.
Tak hanya viral sebagai hiburan, video tersebut juga memancing diskusi luas mengenai keterlibatan orang tua, terutama ayah, dalam pembelajaran anak di sekolah.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, menyampaikan rasa bangganya atas antusiasme para orang tua yang tampil dalam video tersebut. Menurutnya, kegiatan ini mencerminkan komitmen keluarga dan sekolah dalam mendukung perkembangan akademik siswa.
“Kita sangat mengapresiasi ayah-ayah yang hadir langsung pada momen pembagian raport ini. Ini menunjukkan kedekatan emosional antara ayah dan anak serta kepedulian mereka terhadap pendidikan. Momen ini bukan sekadar tuntutan administratif, tapi juga kesempatan untuk berdialog langsung dengan guru mengenai perkembangan siswa,” ujar Yatiman kepada tim redaksi.
Ia menambahkan bahwa sekolah memang mendorong keterlibatan orang tua secara aktif sejak awal tahun ajaran. Menurut Yatiman, ketika ayah hadir di sekolah, hal itu punya dampak positif terhadap motivasi anak untuk belajar.
Sebagai penanggung jawab media sekolah, Linara, Wakil Kepala Urusan Humas MTs Negeri 1 Banjarnegara (Madtsansa), menjelaskan bahwa video itu merupakan hasil inisiatif tim media sekolah yang ingin merekam momen kebersamaan keluarga dan anak.
“Kami memang tidak menyangka video ini bisa mendapat perhatian sebanyak ini. Tujuan awalnya tentu ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, rumah dan sekolah harus berjalan beriringan, selain kami memang selalu mempublikasikan semua kegiatan Madtsansa di sosial media sebagai bentuk jalinan komunikasi madrasah dan masyarakat” tutur Linara.
Sementara itu Fitriyanto, dari tim media Madtsansa yang merekam dan mengunggah video tersebut, mengatakan bahwa respon yang begitu besar dari netizen menjadi kejutan tersendiri.
“Alhamdulillah, video kita mendapat respon yang luar biasa dari netizen. Ini membuat kami bangga sekaligus termotivasi untuk terus membuat konten positif tentang Madtsansa,” ujarnya.
Dua siswa kelas 9 yakni DK Aida (kelas 9A) dan Alya (kelas 9E), juga berbagi kesan mereka tentang momentum ini.
Aida merasa bangga melihat ayahnya datang langsung ke sekolah.
“Senang banget ketika Bapak datang untuk mengambil rapor. Rasanya seperti beliau benar-benar peduli dengan apa yang saya pelajari,” ungkap Aida.
Begitu pula dengan Baihaqi yang menyatakan bahwa kehadiran ayahnya membuat ia lebih termotivasi untuk memperbaiki nilai semester berikutnya.
“Dengan hadirnya ayah, saya merasa rapor ini bukan sekadar angka. Bapak banyak tanya dan memberikan semangat buat semester depan,” tambah Baihaqi.
Video tersebut memicu reaksi beragam di kolom komentar TikTok. Banyak netizen memberi apresiasi atas keterlibatan ayah dalam pendidikan anak, sementara sebagian lainnya mengkritik perilaku ayah yang hanya hadir pada momen tertentu. Diskusi ini mencerminkan sebuah perdebatan sosial yang makin berkembang tentang pentingnya keterlibatan orang tua, khususnya ayah, di sekolah.
Lebih jauh, Gerakan Ayah Mengambil Rapor sendiri tengah digalakkan secara lebih luas di berbagai wilayah di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir, termasuk oleh pemerintah daerah melalui surat edaran dan dukungan publik di banyak sekolah.
Fenomena viral yang melibatkan MTs Negeri 1 Banjarnegara ini menunjukkan bagaimana satu konten sederhana dapat menjadi cermin nilai sosial dan budaya pendidikan di era digital. Lebih dari sekadar jumlah tayangan dan like, momentum ini membuka ruang diskusi tentang peran orang tua serta bagaimana keluarga dan sekolah bekerja sama untuk masa depan anak yang lebih baik sebuah narasi positif yang patut diapresiasi dan dilanjutkan di sekolah-sekolah lain di Indonesia. (Fy)
