Resiliensi Spiritual: Cara KUA Pagentan Perkuat Mental Warga Desa Kasmaran Melalui Sirah Nabawiyah

Banjarnegara (Humas) – Di era modern yang penuh dengan tekanan ekonomi dan sosial, Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan menunjukkan peran strategisnya lebih dari sekadar lembaga pencatat pernikahan. Melalui inisiatif terbaru, KUA Pagentan menyambangi Desa Kasmaran untuk memberikan “amunisi” mental bagi warga melalui bedah sejarah kenabian yang relevan dengan problematika hidup masa kini.

Pada Kamis (15/1/2026), suasana di TK Pertiwi Siswarini Kasmaran tampak berbeda. Majelis Taklim (MT) Thalibatun Nabilah berkumpul bukan hanya untuk mengaji rutin, melainkan untuk mendalami filosofi di balik peristiwa Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Sesi yang dipandu oleh Penyuluh Agama Islam, M. Syaiful Abidin, ini bertujuan mengubah sudut pandang masyarakat dalam menghadapi keterpurukan.

Dalam paparannya, Syaiful Abidin mengajak 32 jamaah yang hadir untuk meneladani keteguhan hati Nabi Muhammad SAW. Ia menjelaskan bahwa sebelum peristiwa besar Isra Mikraj terjadi, Rasulullah terlebih dahulu ditempa oleh kesedihan mendalam atas wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib.

“Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan ajaib melainkan sebuah pesan langit bahwa pemulihan mental dimulai dari kesabaran. Setelah titik nadir, Tuhan menjanjikan kemuliaan,” ungkap Syaiful.

Pesan ini dirasa sangat relevan bagi ibu-ibu di Desa Kasmaran yang sering kali menjadi “benteng” terakhir dalam menjaga keharmonisan dan stabilitas ekonomi keluarga. Syaiful menekankan bahwa kesulitan hidup bukanlah akhir, melainkan proses transisi menuju derajat yang lebih tinggi.

Dwi Astuti Setianingsih, selaku Ketua MT Thalibatun Nabilah, menyambut hangat pendekatan persuasif ini. Menurutnya, edukasi berbasis literasi Sirah Nabawiyah memberikan ketenangan psikologis yang nyata bagi warga desa. Ia mengakui bahwa tantangan hidup saat ini memerlukan keseimbangan antara ikhtiar lahiriah dan kekuatan spiritual.

Langkah inovatif KUA Pagentan ini menandai pergeseran paradigma pelayanan publik di bawah kementerian agama. Saat ini, KUA aktif memposisikan diri sebagai:

  • Pusat Konseling Spiritual: Menangani isu kesehatan mental melalui pendekatan agama.
  • Lembaga Literasi Moral: Mengedukasi masyarakat melalui sejarah dan nilai-nilai keteladanan.
  • Perekat Sosial: Membangun diskusi interaktif yang memperkuat solidaritas antarwarga.

Kegiatan yang ditutup dengan doa bersama ini diharapkan mampu menciptakan masyarakat Desa Kasmaran yang lebih tangguh (resilient), di mana setiap ujian hidup tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai anak tangga menuju kedewasaan mental dan spiritual. 

(msa/ azd)

Skip to content