Banjarnegara (Humas) — Penyuluh Agama Islam Kecamatan Rakit, Endah Widyawati, sinergikan Program Keluarga Harapan (PKH) dalam kegiatan kepenyuluhan kepada masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (14/1/2026), dengan sasaran empat kelompok binaan PKH Desa Rakit, yang bertempat di rumah warga masing-masing kelompok.
Kegiatan kepenyuluhan ini merupakan bagian dari sinergi antara Kementerian Agama dan pendamping PKH dalam memperkuat pembinaan mental, spiritual, serta kemandirian keluarga penerima manfaat. Penyuluhan dilakukan secara bergilir di setiap kelompok agar suasana lebih dialogis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dalam penyampaiannya, Endah Widyawati menekankan pentingnya memaknai bantuan sosial secara tepat. Ia mengangkat tema “Bantuan Sebagai Jalan Bangkit, Bukan Tujuan”, sebagai pengingat bahwa bantuan yang diterima bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan sarana untuk memperbaiki kualitas hidup.
“Bantuan ini adalah amanah. Ia hadir untuk menguatkan, mendorong, dan membuka jalan agar keluarga penerima manfaat bisa bangkit, mandiri, dan keluar dari ketergantungan. Jangan sampai bantuan justru membuat kita berhenti berikhtiar,” ujar Endah di hadapan peserta.
Ia juga mengajak peserta untuk menumbuhkan rasa syukur, semangat bekerja, serta kepercayaan diri bahwa setiap keluarga memiliki potensi untuk berubah menjadi lebih baik dengan usaha yang sungguh-sungguh dan doa.
Sementara itu, Atika, selaku Pendamping PKH Kecamatan Rakit, menyampaikan pesan penguatan kepada para peserta agar memanfaatkan bantuan sesuai peruntukannya. Ia mendorong keluarga penerima manfaat untuk mengelola bantuan secara bijak, memprioritaskan kebutuhan dasar, pendidikan anak, dan kesehatan keluarga.
“Atas nama pendamping PKH, kami berharap bantuan ini benar-benar menjadi modal awal untuk meningkatkan kesejahteraan. Mari bersama-sama berkomitmen agar ke depan bisa mandiri dan tidak terus bergantung pada bantuan,” pesan Atika.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para peserta dan diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kolaborasi antara pembinaan keagamaan dan program sosial menjadi kunci dalam membangun keluarga yang berdaya, mandiri, dan bermartabat.
(ew, azd)







