Banjarnegara – Program Tantangan Literasi Ramadhan di MIFABARA terus menghadirkan refleksi penuh makna dari para siswa. Pada hari ke-18, karya literasi datang dari Nabila, siswi kelas 5D, yang menyampaikan pemikiran mendalam tentang Ramadhan sebagai momentum untuk merenung dan melihat kehidupan dengan sudut pandang yang lebih luas.(9/3)
Dalam tulisannya, Nabila menggambarkan Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan menengok kembali makna kehidupan. “Ramadhan adalah momentum menengadah, merenungkan hakikat langit malam untuk meneropong cahaya bintang sebagai simbol harapan dan petunjuk Allah,” tulisnya dengan penuh perenungan.
Melalui perumpamaan langit malam dan cahaya bintang, Nabila mengajak pembaca untuk melihat bahwa di balik kegelapan selalu ada cahaya yang menuntun. Menurutnya, Ramadhan mengajarkan manusia untuk berpikir melampaui hiruk-pikuk kehidupan duniawi dan mulai memandang kebesaran Allah SWT dengan hati yang lebih jernih.
Ia juga menuliskan bahwa bulan suci ini menjadi kesempatan untuk memperbaiki arah kehidupan. “Ramadhan mengajak kita berpikir melampaui kegelapan duniawi, menatap keagungan-Nya, dan meraih cita-cita tertinggi dengan bimbingan iman,” tulisnya penuh harap.
Bagi Nabila, iman adalah cahaya yang menuntun manusia kembali kepada fitrah. Ketika hati dipenuhi keimanan, seseorang akan lebih mudah menemukan ketenangan, harapan, dan tujuan hidup yang sebenarnya.
Wali kelas 5D memberikan apresiasi atas kedalaman refleksi yang disampaikan Nabila. “Tulisan ini sangat indah karena memadukan imajinasi alam dengan nilai spiritual. Anak-anak belajar melihat Ramadhan bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai ruang kontemplasi yang mendalam,” ujarnya.
Kepala Madrasah MIFABARA, Durotun Nafisah, juga menyampaikan pandangannya. “Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat iman dan memperbaiki arah hidup. Apa yang ditulis Nabila mengingatkan kita bahwa cahaya keimanan selalu menjadi penuntun menuju kebaikan,” tuturnya.
Melalui literasi Ramadhan hari ke-18 ini, Nabila mengajak semua orang untuk memandang Ramadhan sebagai waktu untuk menengadah, merenung, dan menemukan kembali cahaya harapan dalam hidup. Sebab dari langit yang sunyi dan bintang yang berkilau, manusia belajar bahwa setiap perjalanan hidup selalu memiliki arah menuju kebaikan bagi mereka yang beriman.(nas)







