Banjarnegara (Humas) – Siapa bilang dana zakat cuma habis buat sekali makan? Di Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, ceritanya beda banget. Hari Selasa (14/4/2026) kemarin, suasana di salah satu kandang domba di Desa Pagentan tampak lebih ramai dari biasanya. Ternyata, M. Syaiful Abidin, Penyuluh Agama dari KUA Pagentan, lagi asyik “ngantor” di kandang milik Mas Timbul Kaniat.
Bukan mau beli domba buat akikah, kehadiran Mas Syaiful (sapaan akrabnya) adalah untuk menjalankan misi penting: memastikan bantuan zakat produktif dari BAZNAS Provinsi Jawa Tengah benar-benar bikin penerimanya makin berdaya.
Mas Timbul Kaniat ini bukan pemain baru. Beliau adalah potret nyata keberhasilan program zakat produktif. Bayangkan saja, sejak pertama kali disuntik modal usaha oleh BAZNAS, usaha penggemukan dombanya masih eksis sampai sekarang.
“Alhamdulillah, Mas. Berkah bantuan dari BAZNAS, usaha ini sudah jalan lebih dari sepuluh tahun. Masih terus muter modalnya sampai sekarang,” ujar Mas Timbul sambil tersenyum lebar di sela-sela kesibukannya mengurus ternak.
Bagi Mas Timbul, bantuan ini bukan sekadar uang jatuh dari langit, tapi amanah yang harus dijaga. Ketelatenannya merawat domba-domba tersebut membuahkan hasil yang manis bagi ekonomi keluarganya.
Sebagai penyuluh, peran Mas Syaiful nggak cuma mencatat angka atau foto-foto buat laporan monitoring dan evaluasi (monev) ke BAZNAS Provinsi. Beliau juga berperan sebagai mentor sekaligus teman curhat bisnis bagi para mustahik.
Dalam kunjungan santai tersebut, Mas Syaiful memberikan beberapa resep rahasia agar usaha makin berkah dan awet:
- Jaga Kejujuran: Dalam dagang, jujur itu nomor satu. Kalau dombanya sehat bilang sehat, kalau ada minus ya bilang apa adanya.
- Pelayanan Prima: Pembeli adalah raja, kalau servisnya oke, pelanggan pasti balik lagi.
- Manajemen Keuangan Simpel: Nggak perlu makai aplikasi ribet, yang penting pencatatan uang masuk dan keluar jelas supaya modal nggak “termakan” buat kebutuhan harian.
Tujuan besar dari program ini sebenarnya sangat mulia. Mas Syaiful berharap, pendampingan yang intensif ini bisa mengubah status para penerima manfaat.
“Target kita bukan cuma bantu ekonomi sesaat, tapi mendorong kemandirian. Harapannya, kalau sekarang Mas Timbul adalah mustahik (penerima zakat), suatu saat nanti beliau bisa naik kelas jadi muzakki (pemberi zakat),” tegas Syaiful.
Kegiatan ini membuktikan kalau zakat produktif itu impactful banget buat jangka panjang. Dengan bimbingan yang tepat dan semangat pantang menyerah dari pelakunya, kemandirian ekonomi bukan lagi sekadar mimpi di siang bolong bagi warga Pagentan. Semangat terus buat Mas Timbul dan para peternak lainnya!
(msa/azd)







