Banjarnegara – MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA) melaksanakan upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional dengan penuh khidmat di halaman madrasah. Petugas upacara berasal dari siswa kelas 4 dan 5 muslim yang menjalankan tugasnya dengan tertib dan penuh tanggung jawab.(2/5)
Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala Madrasah Durotun Nafisah menyampaikan amanat yang sarat makna tentang tokoh pendidikan nasional, khususnya Ki Hajar Dewantara. Dalam penyampaiannya, beliau tidak hanya mengulas perjuangan Ki Hajar, tetapi juga mengenalkan dua sahabat seperjuangannya, yaitu Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, yang bersama-sama berjuang melalui gagasan dan pendidikan untuk kemerdekaan bangsa.
Beliau juga menyinggung karya pemikiran Ki Hajar Dewantara melalui tulisan berjudul Andai Aku Seorang Belanda, yang berisi kritik tajam terhadap penjajahan sekaligus menjadi bukti keberanian beliau dalam memperjuangkan keadilan melalui jalur intelektual. “Dari tulisan itulah kita belajar bahwa pena bisa menjadi alat perjuangan yang sangat kuat,” tuturnya.
Dalam amanatnya, Durotun Nafisah juga menjelaskan filosofi pendidikan yang sangat terkenal, yaitu ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Beliau memaparkan maknanya secara sederhana namun mendalam: di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan.
“Seorang guru harus mampu menjadi contoh yang baik, membimbing dengan penuh semangat, serta mendukung siswa agar berkembang dengan percaya diri,” jelasnya. Filosofi ini, lanjut beliau, tidak hanya berlaku bagi guru, tetapi juga bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Para siswa mengikuti upacara dengan penuh perhatian. Salah satu siswa mengaku terinspirasi dengan kisah yang disampaikan. “Saya jadi tahu kalau tokoh pendidikan itu berjuang dengan ilmu dan tulisan. Jadi kita harus semangat belajar,” ujarnya.
Guru pendamping juga mengapresiasi penyampaian amanat yang inspiratif tersebut. “Anak-anak tidak hanya tahu sejarah, tetapi juga memahami nilai yang bisa diterapkan dalam kehidupan,” ungkapnya.
Melalui upacara ini, MIFABARA tidak hanya memperingati Hari Pendidikan Nasional secara seremonial, tetapi juga menanamkan filosofi pendidikan yang mendalam. Bahwa pendidikan adalah proses menuntun, memberi teladan, dan menumbuhkan semangat—sebuah perjalanan panjang untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.(nas)







