Banjarnegara – Kreativitas dan inovasi mewarnai pembelajaran IPAS di kelas 5C MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA). Dalam materi sistem pencernaan manusia, murid tidak hanya mempelajari fungsi organ melalui buku pelajaran, tetapi juga menuangkannya ke dalam karya poster edukatif dengan gaya dan media yang mereka pilih sendiri.(18/8)
Di bawah bimbingan guru, setiap murid diberikan kebebasan menentukan cara terbaik untuk mengekspresikan ide. Sebagian murid memanfaatkan teknologi digital dengan merancang poster menggunakan berbagai aplikasi desain, seperti Canva, sementara yang lain memilih menggambar dan mewarnai secara manual menggunakan buku gambar, pensil warna, maupun spidol. Kebebasan ini membuat setiap karya memiliki ciri khas dan menunjukkan potensi kreatif masing-masing.
Selama proses pembuatan, murid belajar mencari informasi yang akurat, menyusun isi poster secara sistematis, memilih ilustrasi yang menarik, serta menyajikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami. Mereka tidak hanya menghafal nama organ pencernaan, tetapi juga memahami fungsi setiap organ dan pentingnya menjaga kesehatan sistem pencernaan melalui pola hidup sehat.
Pembelajaran ini sekaligus mengembangkan berbagai keterampilan abad ke-21. Murid yang membuat poster digital mengasah kemampuan literasi digital, kreativitas, dan pemanfaatan teknologi secara positif. Sementara itu, murid yang berkarya secara manual melatih ketelitian, koordinasi motorik halus, serta kemampuan menuangkan ide melalui seni visual. Perbedaan media tidak menjadi pembatas, melainkan menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki cara unik untuk belajar dan berkarya.
Kepala MI Al Fatah Parakancanggah, Durotun Nafisah, mengapresiasi pembelajaran yang memberikan ruang bagi murid untuk mengeksplorasi kreativitas sesuai minat dan kemampuannya.
“Kami ingin setiap anak merasa dihargai dalam proses belajarnya. Ada yang nyaman berkarya secara digital, ada pula yang lebih percaya diri melalui gambar tangan. Keduanya sama-sama bernilai karena yang terpenting adalah bagaimana anak mampu memahami materi, berpikir kreatif, dan menyampaikan pengetahuan dengan cara yang menarik. Madrasah hadir untuk mengembangkan potensi setiap peserta didik tanpa membatasi kreativitas mereka,” tuturnya.
Dari sebuah poster sederhana, lahir kemampuan berpikir kritis, literasi digital, komunikasi visual, serta keberanian mengekspresikan ide. Inilah wujud pembelajaran yang memberi ruang bagi setiap murid untuk tumbuh, berkarya, dan menunjukkan bahwa setiap karya memiliki nilai ketika dibuat dengan semangat belajar dan kreativitas.(nas)







