Banjarnegara (Humas) – Pernikahan bukan berarti kehidupan rumah tangga akan selalu berjalan tanpa perbedaan. Setiap pasangan perlu memiliki kesiapan untuk menghadapi konflik secara dewasa agar persoalan tidak justru merusak keharmonisan keluarga. Hal tersebut disampaikan Penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Kalibening, Teguh Arifudin, saat melaksanakan pemeriksaan berkas calon pengantin sekaligus memberikan bimbingan perkawinan, Senin (7/9/2026).
Dalam bimbingan tersebut, Teguh menyampaikan materi tentang mengelola konflik dan perbedaan dalam kehidupan rumah tangga. Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya tidak menjadikan perceraian sebagai ancaman setiap kali terjadi pertengkaran antara suami dan istri.
Menurut Teguh, perbedaan pendapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berumah tangga. Dua orang yang memiliki latar belakang, kebiasaan, dan cara pandang berbeda tentu tidak selalu sepakat dalam menghadapi setiap persoalan. Karena itu, pasangan perlu belajar mengendalikan emosi dan mencari penyelesaian secara bersama-sama.
“Jangan menjadikan perceraian sebagai ancaman setiap kali terjadi pertengkaran. Ketika muncul masalah, pasangan perlu menenangkan diri, berkomunikasi, saling mendengarkan, kemudian mencari solusi yang terbaik bersama,” ungkap Teguh.
Ia menjelaskan, penyelesaian konflik membutuhkan kesabaran dan kemauan untuk memahami pasangan. Persoalan yang muncul sebaiknya tidak diselesaikan dengan kata-kata yang menyakiti atau keputusan yang diambil ketika emosi sedang memuncak.
Bimbingan perkawinan tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan calon pengantin agar tidak hanya siap menjalani akad, tetapi juga memiliki bekal menghadapi dinamika kehidupan setelah menikah. Kesiapan tersebut diharapkan dapat membantu pasangan membangun komunikasi yang sehat dan menjaga komitmen ketika menghadapi persoalan.
Melalui pembekalan ini, KUA Kalibening mendorong calon pengantin untuk membangun keluarga yang mampu menghadapi perbedaan dengan kedewasaan, sehingga konflik tidak menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi kesempatan untuk semakin memahami dan menguatkan satu sama lain demi terwujudnya keluarga sakinah.
(wha/azd)







