Sembilan Duta OMI Sains MTs Negeri 1 Banjarnegara Ikuti Uji Coba Tingkat Kabupaten

Banjarnegara — Sebanyak sembilan duta Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) bidang Sains MTs Negeri 1 Banjarnegara mengikuti kegiatan uji coba OMI Sains tingkat Kabupaten Banjarnegara pada Sabtu (5/9). Kegiatan yang dilaksanakan di ruang Laboratorium Komputer MTs Negeri 1 Banjarnegara tersebut menjadi bagian dari persiapan para peserta menghadapi pelaksanaan OMI tahun 2026.

Uji coba berlangsung dengan memanfaatkan perangkat komputer di laboratorium. Kesembilan duta OMI mengerjakan soal-soal sesuai bidang lomba masing-masing, sehingga selain mengukur penguasaan materi, kegiatan juga menjadi sarana membiasakan peserta menghadapi sistem pengerjaan berbasis komputer.

Sembilan duta yang mewakili MTs Negeri 1 Banjarnegara terbagi dalam tiga bidang. Pada Matematika Terintegrasi, madrasah mengirimkan Daffa, Benita, dan Syafika. Pada bidang IPA Terintegrasi, duta yang mengikuti uji coba adalah Neztya, Zaskia, dan Alin. Sementara pada bidang IPS Terintegrasi, tiga peserta yang berjuang adalah Noviana, Raisa, dan Afkar.

Wakil Kepala Urusan Kurikulum MTs Negeri 1 Banjarnegara, Hj. Yuniyati, menyampaikan bahwa uji coba menjadi tahapan penting untuk mengetahui sejauh mana kesiapan para duta sebelum menghadapi kompetisi yang sesungguhnya.

“Uji coba ini bukan sekadar mengerjakan soal, tetapi menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengukur kesiapan, mengenali pola soal, sekaligus membangun mental bertanding. Kami berharap sembilan duta OMI Sains dapat mengikuti setiap tahapan dengan sungguh-sungguh dan terus meningkatkan kemampuan masing-masing,” ungkap Yuniyati.

Menurutnya, keikutsertaan sembilan peserta dari tiga bidang sains tersebut juga menunjukkan komitmen madrasah dalam memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi akademik.

Sementara itu, Kasum selaku proktor pelaksanaan simulasi, menjelaskan bahwa aspek teknis menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan uji coba. Peserta dibiasakan mengerjakan soal menggunakan komputer agar tidak hanya siap dari sisi akademik, tetapi juga terbiasa dengan mekanisme pelaksanaan lomba berbasis digital.

“Dalam simulasi ini kami memastikan peserta dapat mengikuti alur pengerjaan dengan baik, mulai dari masuk ke sistem, memahami instruksi, mengerjakan soal hingga menyelesaikan seluruh tahapan. Harapannya ketika pelaksanaan OMI sebenarnya berlangsung, peserta sudah tidak lagi merasa asing dengan sistem yang digunakan,” jelas Kasum.

Dari bidang Matematika Terintegrasi, Arif Widayanto selaku pembimbing OMI Matematika, menilai uji coba menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga. Peserta dapat mengetahui bagian-bagian yang masih perlu diperkuat, baik dalam pemahaman konsep, ketelitian maupun kecepatan menyelesaikan soal.

“Dalam olimpiade, kemampuan memahami konsep saja belum cukup. Peserta juga dituntut teliti, mampu menganalisis persoalan dan mengambil keputusan dalam waktu yang terbatas. Karena itu, hasil uji coba ini akan kami jadikan bahan untuk menentukan materi dan pola pembinaan berikutnya,” tutur Arif.

Salah satu peserta bidang Matematika Terintegrasi, Daffa, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari kegiatan tersebut. Menurutnya, pengerjaan soal melalui komputer membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tersendiri.

“Uji coba ini membuat saya bisa mengetahui sejauh mana kemampuan saya. Ada soal yang terasa mudah, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami. Dari sini saya jadi tahu bagian mana yang harus lebih banyak saya pelajari,” ujar Daffa.

Hal senada disampaikan Neztya, peserta bidang IPA Terintegrasi. Ia menilai simulasi memberikan gambaran mengenai suasana kompetisi sekaligus melatih kesiapan menghadapi soal dalam kondisi terbatas waktu.

“Menurut saya, uji coba sangat membantu karena kami bisa berlatih mengerjakan soal dengan suasana seperti perlombaan. Saya ingin menjadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk belajar lebih giat dan memperbaiki kekurangan,” katanya.

Sementara Noviana, salah satu duta bidang IPS Terintegrasi, berharap proses pembinaan yang dilakukan setelah uji coba dapat semakin meningkatkan kepercayaan diri seluruh peserta.

“Kami tentu ingin memberikan hasil terbaik untuk madrasah. Uji coba ini menjadi pengalaman sekaligus evaluasi agar kami bisa lebih siap menghadapi OMI yang sebenarnya,” ungkapnya.

Pelaksanaan uji coba OMI Sains tingkat Kabupaten Banjarnegara berlangsung tertib dan penuh antusias. Melalui kegiatan tersebut, MTs Negeri 1 Banjarnegara terus mendorong sembilan duta terbaiknya untuk mematangkan kesiapan akademik, teknis, mental, serta kemampuan berpikir kritis.

Dengan pembinaan yang berkelanjutan dan evaluasi dari hasil uji coba, kesembilan duta OMI Sains Madtsansa diharapkan mampu tampil optimal serta membawa nama baik MTs Negeri 1 Banjarnegara pada ajang OMI Sains tahun 2026. (Fy)