Banjarnegara (Humas) – Bantuan sosial adalah jembatan, bukan tujuan akhir. Tujuan kita adalah menjadi keluarga yang mandiri, produktif, dan tidak lagi bergantung. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama KUA Rakit, Fatma Kurnianingsih, dalam kegiatan penyuluhan di PKH Kelompok 5A Desa Pingit yang didampingi Lukitasari Winastuti pada Jumat (11/9/2026).
Kegiatan yang digelar di rumah Suratno ini dihadiri 19 anggota ibu-ibu penerima manfaat kali ini Fatma mengangkat tema “Berikhtiar dan Bangun Kemandirian”, Fatma mengajak peserta untuk mengubah mindset dari penerima menjadi pelaku.”Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Artinya kita harus mulai dari diri kita,” jelas Fatma.
Ia memaparkan 3 langkah membangun kemandirian. Pertama, niat dan tawakal. “Yakin bahwa Allah sudah siapkan rezeki. Tapi kita wajib menjemputnya. Tawakal itu ikhtiar dulu, baru pasrah.” Ungkapnya.
Kedua, mulai usaha kecil dari rumah. “Tidak harus besar. Bisa jualan makanan, jahit, berkebun, atau ternak. Manfaatkan bantuan PKH untuk modal, bukan hanya habis untuk konsumsi. Sedikit tapi rutin akan jadi bukit.” Terangnya.
Ketiga, tingkatkan keterampilan dan ilmu. “Ikuti pelatihan, belajar jualan online, belajar menabung. Ibu-ibu hebat kalau mau belajar. Anak juga harus disekolahkan tinggi agar tidak mewarisi kemiskinan.” Tegasnya.
Fatma juga mengingatkan agar bantuan digunakan sesuai tujuan. “PKH untuk kesehatan dan pendidikan. Kalau dua ini beres, maka jalan menuju mandiri akan lebih mudah. Jangan dipakai untuk hal yang tidak produktif.” Tambahnya.
Pendamping PKH, Lukitasari Winastuti, mengapresiasi. “Kami berharap ibu-ibu termotivasi. Target kami, 3-5 tahun ke depan banyak dari Kelompok 5A ini yang sudah graduasi dan punya usaha sendiri.” Ucapnya.
Kegiatan ditutup dengan tanya jawab dan doa bersama. Diharapkan 19 anggota PKH Kelompok 5A Desa Pingit dapat berikhtiar sungguh-sungguh, membangun kemandirian, dan menjadikan bantuan sebagai bekal untuk naik kelas secara ekonomi.
(n/azd)







