Banjarnegara — Suasana pembelajaran kelas 1A MI Ma’arif Al Falah Joyokusumo (MIMAU) tampak penuh kreativitas pada Rabu, 9 September 2026. Sebanyak 23 murid mengikuti pembelajaran Mata Pelajaran Kaligrafi selama dua jam pelajaran bersama guru mata pelajaran, Agus Prasetyo. (9/9)
Pembelajaran Kaligrafi merupakan salah satu program unggulan MIMAU yang menjadi salah satu kegiatan yang memberikan ruang kepada murid untuk mengenal seni keindahan tulisan Arab sejak dini. Dalam kegiatan tersebut, murid diarahkan untuk belajar menulis dengan lebih rapi, teliti, dan memperhatikan bentuk serta susunan setiap huruf.
Di bawah bimbingan Agus Prasetyo, murid mengikuti proses pembelajaran dengan penuh perhatian. Setiap guratan tulisan dikerjakan secara perlahan agar murid dapat memahami teknik dasar kaligrafi sekaligus membiasakan diri menghasilkan tulisan yang indah dan teratur.
Bagi murid kelas 1A, pembelajaran Kaligrafi tidak hanya menjadi aktivitas menulis. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk melatih kesabaran, konsentrasi, ketelitian, kreativitas, serta kecintaan terhadap seni Islami.
Kepala Madrasah MIMAU, Wahyul Khomisah, menyampaikan apresiasi terhadap pembelajaran Kaligrafi yang memberikan pengalaman berbeda bagi murid. Menurutnya, seni kaligrafi memiliki nilai edukatif sekaligus religius karena memperkenalkan keindahan tulisan Arab kepada anak-anak.
“Kaligrafi bukan sekadar tentang menghasilkan tulisan yang indah. Di dalam prosesnya ada latihan kesabaran, ketelitian, konsentrasi, dan kedisiplinan. Kami berharap melalui pembelajaran ini anak-anak semakin mengenal seni Islami dan tumbuh kecintaannya terhadap tulisan Arab,” ungkap Wahyul Khomisah.
Sementara itu, Nuri Fatimah, wali kelas 1A sekaligus tim jurnalis MIMAU, menilai pembelajaran Kaligrafi sangat sesuai dengan kebutuhan murid kelas awal yang sedang mengembangkan kemampuan motorik halus.
“Anak-anak membutuhkan kegiatan yang melatih tangan dan mata untuk bekerja secara seimbang. Ketika menulis kaligrafi, mereka belajar mengontrol gerakan tangan, memperhatikan bentuk tulisan, sekaligus belajar bersabar agar hasilnya lebih rapi. Kegiatan seperti ini juga membuat pembelajaran menjadi lebih variatif dan menyenangkan,” ujar Nuri Fatimah.
Selama dua jam pelajaran, murid mendapatkan kesempatan untuk berlatih secara bertahap dengan mengikuti arahan guru. Meskipun setiap murid memiliki kemampuan yang berbeda, semangat untuk mencoba dan memperbaiki hasil tulisan menjadi bagian menarik dalam pembelajaran.
Kegiatan Kaligrafi tersebut sekaligus menjadi wujud upaya MIMAU dalam memberikan pembelajaran yang seimbang antara kemampuan akademik, keterampilan, kreativitas, dan nilai-nilai keislaman. Melalui aktivitas sederhana berupa goresan pena, murid diajak memahami bahwa sebuah karya yang indah membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran.
Pembelajaran pun tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan tulisan yang rapi. Lebih dari itu, Kaligrafi menjadi media untuk menanamkan karakter positif kepada murid sejak dini, sehingga setiap guratan yang mereka buat dapat menjadi bagian dari proses belajar dan tumbuh bersama. (NF)







