Banjarnegara (Humas) – Beragama harus berada di tengah, tidak ekstrem ke kanan dan tidak ekstrem ke kiri. Itulah esensi moderasi beragama yang harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk.
Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Rakit, Sodikin, dalam kegiatan penyuluhan di Majelis Taklim Al Hikmah Desa Situwangi yang diketuai Saeful Basyar pada Rabu (16/9/2026).
Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Rabu dihadiri 18 jemaah ibu-ibu dengan penuh antusias. Mengangkat tema “Moderasi Beragama”, Sodikin mengajak jemaah untuk memahami Islam yang rahmatan lil alamin, damai dan toleran.
Moderasi itu bukan berarti mencampuradukkan agama. Tapi bagaimana kita yakin dengan agama kita, sekaligus menghormati orang lain yang berbeda. Islam mengajarkan lakum dinukum waliyadin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku,” jelas Sodikin.
Ia memaparkan 4 indikator moderasi beragama yang harus dimiliki. Pertama, komitmen kebangsaan. “Cinta tanah air bagian dari iman. Kita harus setia pada Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. Jangan mudah terprovokasi gerakan yang ingin memecah belah bangsa.” Paparnya.
Kedua, toleransi. “Di Situwangi kita hidup berdampingan. Kalau ada tetangga beda keyakinan yang hajatan, ya kita hormati. Jangan membenci, jangan mencaci. Toleransi itu akhlak mulia”. Terangnya.
“Ketiga, anti kekerasan. “Jangan menyelesaikan masalah dengan marah dan kekerasan. Apalagi mengatasnamakan agama. Dakwah itu dengan lemah lembut, bukan dengan makian.” Ungkapnya.
Keempat, menghargai tradisi lokal. “Selama tradisi tidak bertentangan dengan syariat, maka harus dihargai. Jangan mudah membid’ah-bid’ahkan orang lain.” Tegasnya.
Sodikin berpesan agar ibu-ibu menjadi agen moderasi di keluarga. Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk kedamaian bangsa. Diharapkan 18 jemaah MT Al Hikmah Situwangi dapat menerapkan nilai moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi pelopor kerukunan di lingkungan masing-masing.
(n/azd)







