MIFABARA Gelar Salat Istisqa, Memohon Hujan dan Menanamkan Nilai Ketakwaan

Banjarnegara – Di tengah kemarau yang berkepanjangan, keluarga besar MIFABARA menggelar Salat Istisqa di halaman madrasah. Kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama untuk memohon rahmat dan pertolongan Allah Swt. agar segera menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi seluruh makhluk.(3/10)

Sebelum pelaksanaan salat, seluruh peserta didik mendapatkan pembekalan mengenai tata cara Salat Istisqa yang disampaikan oleh Ustadz Afid. Dengan bahasa yang mudah dipahami, murid dikenalkan pada pengertian Salat Istisqa, niat, tata cara pelaksanaan, serta hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan ibadah tersebut.

“Anak-anak perlu memahami bahwa Salat Istisqa bukan hanya sekadar mengikuti gerakan salat, tetapi merupakan bentuk ikhtiar dan doa kita kepada Allah ketika hujan belum turun. Dengan memahami tata caranya, anak-anak diharapkan dapat mengikuti ibadah ini dengan lebih sadar dan khusyuk,” jelas Ustadz Afid.

Setelah pembekalan, seluruh murid, guru, dan tenaga kependidikan kemudian melaksanakan Salat Istisqa bersama. Suasana halaman MIFABARA berubah menjadi ruang doa yang penuh kekhusyukan. Seluruh jamaah menundukkan hati, memohon ampunan, dan berharap agar Allah Swt. segera menurunkan hujan.

Ustadz Lukman bertugas sebagai imam sekaligus memimpin doa. Sementara Ustadz Afid turut memimpin doa, dan Ustadz Wahid bertugas sebagai bilal.

Dalam doa bersama, keluarga besar MIFABARA memohon agar Allah Swt. menurunkan hujan yang cukup, bermanfaat, dan membawa keberkahan. Doa juga dipanjatkan agar masyarakat diberikan kekuatan serta kemudahan dalam menghadapi kondisi kemarau dan kekeringan.

Kepala MIFABARA,  menyampaikan bahwa Salat Istisqa menjadi momentum penting untuk mengajarkan kepada peserta didik tentang hubungan antara ikhtiar manusia, doa, dan rasa syukur atas nikmat Allah.

“Kita ingin anak-anak belajar bahwa dalam menghadapi keadaan seperti kemarau panjang ini, kita tidak hanya berusaha secara lahiriah, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah. Salat Istisqa menjadi pembelajaran bagi mereka untuk berdoa, memohon pertolongan Allah, sekaligus melakukan introspeksi dan meningkatkan rasa syukur,” tutur beliau.

Menurut beliau, kemarau juga menjadi pengingat agar seluruh warga madrasah semakin peduli terhadap lingkungan dan menggunakan air secara bijaksana.

“Air adalah nikmat yang sangat berharga. Mudah-mudahan melalui kegiatan ini anak-anak semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan, menghemat air, dan tidak menyia-nyiakan setiap nikmat yang Allah berikan,” imbuhnya.

Semoga doa yang dipanjatkan dari halaman MIFABARA menjadi bagian dari ikhtiar bersama dan Allah Swt. segera menurunkan hujan yang membawa manfaat, menyuburkan bumi, mencukupi kebutuhan air masyarakat, serta menjadi keberkahan bagi seluruh makhluk. (nas)