Kilas Balik Karya Sastra Pembimbing Kelas Menulis MTs Negeri 1 Banjarnegara Sampaikan Proses Penulisan Buku

Banjarnegara–Menjadi pembimbing kelas menulis berarti harus mendampingi proses penulisan baik sebelum maupun sesudah. Inilah yang dilakukan oleh Arbangi dan Farida dalam perannya sebagai pembimbing kelas menulis. Untuk bisa mencapai target menerbitkan buku dibutuhkan kerja sama berbagai belah pihak terutama bahan utamanya, yaitu tulisan siswa. Pada acara bedah buku kelas menulis Madtsansa yang diadakan pada Kamis (3/8) di Cafe Padhang Wulan, Farida dan Arbangi menyampaikan kilas balik proses pembuatan 2 buku karya siswa.

Di usia remaja seperti siswa kelas menengah menulis bukan hal yang mudah. Dibutuhkan proses yang panjang sehingga terciptalah dua kumpulan karya sastra. Farida, pembimbing kelas menulis jenjang kelas 9 menceritakan bagaimana proses pembuatan buku kumpulan fabel ‘Bianglala Fauna’. Buku ini terdiri dari 35 karya siswa kelas menulis yang menceritakan kisah hewan. Tokoh dalam cerita fabel adalah hewan yang bisa berperilaku seperti manusia. Dari fabel yang ditulis oleh siswa, meski masih perlu diperbaiki ulang ternyata mereka mampu menciptakan sebuah cerita fabel yang syarat akan nilai moral.

Tidak jauh berbeda dari Farida, Arbangi yang membimbing siswa kelas 8 juga mengalami hal yang sama. Antologi puisi siswa kelas 8 menulis ini tidak kalah menakjubkan. Siswa seusia mereka ternyata bisa menciptakan beberapa puisi dengan tema yang berbeda-beda. Ada salah satu karya yang menarik karena bisa memadukan beberapa keadaan diramu dalam diksi yang tepat sekaligus menjadi judul antologi puisinya ‘Hujan dan Rumah Singgah’.

“Jika dilihat dari puisinya, penulis puisi Hujan dan Rumah Singgah ini sepertinya memiliki pengalaman soal perasaan ini. Bisa diceritakan apa yang menginspirasi kamu sehingga bisa menciptakan puisi berjudul Hujan dan Rumah Singgah?” tanya Arbangi kepada Nada, penulis puisi Hujan dan Rumah Singgah.

Nada menjawab bahwa dia terinspirasi dari anime yang sering dia tonton. Ternyata dalam menulis karya sastra bisa mengembangkan ide dari manapun seperti hal yang disukai, hal yang sering dilihat, dan sebagainya. Ini menjadi pelajaran berharga dan bisa diterapkan dalam menulis karya berikutnya. (rin)