Banjarnegara (Humas) – MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya riset di kalangan siswa. Pada Senin (4/8), dua siswi anggota tim riset MTs Negeri 1 Banjarnegara, Pusya dan Zizi, melakukan wawancara langsung dengan Kepala TK IT Permata Hati, Hartuti, di ruang kepala sekolah TK IT Permata Hati Banjarnegara. Wawancara ini merupakan bagian dari pengumpulan data untuk penelitian mereka yang berjudul “Aspek Religius dalam Kesenian Tari Khas Banjarnegara.”
Kegiatan wawancara berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Dalam suasana santai namun serius, kedua siswi yang mengenakan seragam putih biru itu menyampaikan pertanyaan-pertanyaan mendalam seputar nilai-nilai religius yang dapat ditemukan dalam praktik kesenian tari tradisional Banjarnegara, terutama yang kerap dipentaskan di lingkungan pendidikan anak usia dini.
Hartuti, yang telah lebih dari satu dekade memimpin TK IT Permata Hati, menyambut baik kedatangan tim riset dari Madtsansa. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan apresiasi atas ketertarikan generasi muda terhadap pelestarian budaya lokal melalui lensa keagamaan.
“Saya sangat mengapresiasi riset yang dilakukan anak-anak MTs Negeri 1 Banjarnegara. Kesenian tari tradisional, terutama yang sering kita perkenalkan sejak usia dini, sebenarnya banyak mengandung nilai-nilai religius, seperti kesantunan, simbol kebaikan, dan penghormatan terhadap sesama,” tutur Hartuti.
Lebih lanjut, Hartuti menjelaskan bahwa beberapa tarian tradisional khas Banjarnegara, seperti Tari Aplang sering dimodifikasi oleh para guru untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Islami agar tetap relevan dan tidak bertentangan dengan prinsip pendidikan Islam.
Pusya, salah satu anggota tim riset, menyampaikan bahwa wawancara ini memberinya sudut pandang baru terkait hubungan antara seni dan agama.
“Ternyata banyak hal dalam tarian tradisional yang bisa ditafsirkan sebagai wujud religiusitas. Dari gerakan yang mencerminkan kelembutan, hingga makna kostum dan musik yang mendukung nilai ketenangan,” ujar Pusya dengan penuh semangat.
Zizi, anggota tim riset lainnya, menambahkan bahwa kegiatan ini sangat membantunya memahami bahwa seni tradisional bisa menjadi media edukatif yang efektif jika dikemas dengan pendekatan keislaman.
“Dari Bu Hartuti, kami belajar bahwa guru bisa menjadi agen pelestarian budaya sekaligus penanam nilai agama. Ini membuat kami semakin yakin bahwa riset kami ini bermanfaat untuk pendidikan karakter,” ungkap Zizi.
Musfiatul Muniroh, guru pembimbing riset MTs Negeri 1 Banjarnegara yang turut mendampingi kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong peserta didik untuk mengkaji isu-isu lokal dari berbagai aspek, termasuk budaya dan agama.
“Kami mendorong siswa untuk meneliti topik yang dekat dengan kehidupan mereka, agar lebih kontekstual dan berdampak. Tema seni dan religiusitas ini sangat tepat karena bisa membuka wawasan dan menggugah kesadaran siswa akan pentingnya pelestarian budaya yang sejalan dengan ajaran agama,” jelas Musfiatul Muniroh.
Wawancara yang berlangsung selama hampir satu jam tersebut juga ditutup dengan sesi diskusi ringan sambil menikmati sajian tradisional khas Banjarnegara, yang disiapkan oleh tuan rumah sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu muda yang datang membawa semangat ilmiah.
Kegiatan ini menjadi salah satu bagian dari program pembinaan riset siswa MTs Negeri 1 Banjarnegara yang rutin dilakukan dalam rangka menghadirkan pengalaman belajar autentik. Dengan pendekatan lapangan seperti ini, siswa tidak hanya belajar teori, namun juga membangun keterampilan komunikasi, berpikir kritis, serta rasa percaya diri. (Lin/La)







